5 Rekomendasi Drama Jepang Bertema Dessert yang Menggugah Selera

Table of Contents

Di dunia drama Jepang, dessert sering digunakan sebagai elemen penting yang menggerakkan emosi. Cokelat, kue, dan wagashi membawa keberanian untuk menyatakan cinta, debaran saat bertemu kembali, hingga kepahitan patah hati.

Ketika cinta bertemu dengan dessert, cerita pun menjadi lebih hangat dan penuh aroma manis. Berikut ini lima drama Jepang bertema dessert pilihan yang memungkinkan penonton merasakan manisnya cinta sekaligus godaan visual yang menggugah selera.

1. Romantics Anonymous

Romantics Anonymous(匿名の恋人たち)dibintangi oleh Shun Oguri dan Han Hyo-joo dalam kolaborasi lintas negara, berfokus pada dinamika emosi generasi usia 30–40 tahun, menghadirkan komedi romantis untuk penonton dewasa.

Cerita berawal dari “cokelat” sebagai pemicu, menggambarkan dua individu yang canggung dalam urusan cinta namun tetap merindukan koneksi, yang perlahan membuka hati dan memulai kisah cinta yang lembut dan murni.

Shun Oguri menampilkan pesona matang dan tenang, sementara Han Hyo-joo menghadirkan kelembutan pada karakternya. Chemistry keduanya seperti dark chocolate—sedikit pahit namun meninggalkan rasa manis.

Drama Jepang ini banyak menampilkan proses tempering, pembentukan, dan pencicipan cokelat, seolah aroma kakao yang pekat keluar dari layar dan memikat penonton.

Cokelat bukan sekadar produk, melainkan simbol penyembuhan hati, memberikan keseluruhan karya rasa manis yang tenang dan bertahan lama.

Baca Juga:

2. Old Fashioned Cupcake

Old Fashioned Cupcake(オールドファッションカップケーキ)diadaptasi dari manga BL populer, mengisahkan hubungan antara atasan lembut yang hampir berusia 40 tahun dan bawahan tsundere yang mengaguminya.

Dengan alasan “melawan penuaan lewat makan dessert”, mereka memulai perjalanan mencicipi berbagai toko dessert—cupcake, pancake, hingga parfait—yang tampil bergantian dengan visual yang menenangkan dan menggoda.

Penonton tidak hanya menyaksikan tumbuhnya cinta, tetapi juga terpikat oleh warna dan bentuk dessert yang indah.

Meski hanya terdiri dari lima episode, drama Jepang ini menggambarkan dengan detail gejolak dan kedekatan emosional para karakter. Adegan pengakuan di episode 4 bahkan dianggap sebagai salah satu momen klasik dalam drama BL.

Atasan yang dewasa dan bawahan yang karismatik perlahan mendekat di meja dessert, menjadikan romansa kantor dengan perbedaan usia 10 tahun terasa hangat.

Dessert menjadi alasan kencan sekaligus medium perkembangan hubungan mereka, menghadirkan rasa manis yang lembut dan membekas.

Baca Juga:

4 Drama BL Jepang Antar Rekan Kerja yang Bikin Hati Berdebar!

3. A Warmed Up Love

A Warmed Up Love(この恋あたためますか)berlatar pada pengembangan produk baru di convenience store. Nana Mori berperan sebagai pekerja paruh waktu, sementara Tomoya Nakamura sebagai CEO, yang dipertemukan melalui proses menciptakan dessert populer.

Sesi pencicipan, rapat produk, dan pengembangan sampel membuat penonton ikut penasaran dengan dessert convenience store. Hidangan manis yang ditampilkan tampak sangat lezat, menjadi “tokoh utama” visual lainnya dalam drama ini.

Meski mengusung formula komedi romantis klasik, kombinasi CEO dingin dan gadis jujur tetap menarik. Nana Mori tampil manis dan menggemaskan, sementara suara dan gaya berjas Tomoya Nakamura menambah pesona.

Dessert menjadi simbol hubungan mereka yang perlahan menghangat. Ketika cinta dan pengembangan produk berjalan beriringan, dessert tidak hanya menarik pelanggan, tetapi juga mendekatkan dua hati secara diam-diam.

4. Cursed in Love

Cursed in Love atau Watashitachi wa Douka Shiteiru(私たちはどうかしている)berlatar di toko wagashi legendaris di Kanazawa, memadukan kimono indah, nuansa kota tua, serta drama cinta penuh konflik dan misteri.

Minami Hamabe berperan sebagai perempuan yang bercita-cita menjadi pembuat wagashi, sementara Ryusei Yokohama sebagai pria dengan beban takdir keluarga, menghadirkan hubungan cinta dan kebencian yang rumit.

Wagashi dalam drama ini tidak hanya menampilkan keindahan tradisional Jepang, tetapi juga mencerminkan perubahan emosi karakter.

Sebagai cerita tentang pembuat wagashi, setiap episode menampilkan proses pembuatan berbagai manisan tradisional seperti yokan, manju, monaka, rakugan, warabi mochi, hingga kingyokukan (agar-agar), dan tsubaki mochi.

Semua disajikan seperti karya seni yang sangat indah dan detail, membuka wawasan penonton. Meski alurnya terkadang terasa dramatis berlebihan, pesona visual dan dessert membuatnya tetap memikat.

5. Shitsuren Chocolatier

Shitsuren Chocolatier(失恋ショコラティエ)berlatar di toko cokelat yang stylish, menceritakan seorang pria yang masuk ke dunia dessert demi cinta tak terbalas.

Drama ini dikenal dengan visualnya yang estetis—kilau cokelat, desain kemasan, hingga display etalase ditampilkan seperti karya seni.

Saat mengikuti konflik emosional para karakter, penonton juga akan terpesona oleh visual dessert. Cokelat menjadi inti profesi sekaligus simbol patah hati dan obsesi, menjadikan cinta terasa intens sekaligus pahit.

Jun Matsumoto sebagai chocolatier memancarkan pesona fokus yang sangat menarik saat membuat cokelat. Sementara Satomi Ishihara dengan peran “femme fatale” menjadi sorotan lewat gaya rambut, busana, dan makeup yang sempurna.

Setiap ekspresi dan gerak-geriknya memikat penonton, terutama saat menikmati cokelat—bahkan terasa lebih manis daripada cokelat itu sendiri, menciptakan tren dan perbincangan hangat.

Dari atelier cokelat hingga toko wagashi tradisional, kelima drama ini membuktikan bahwa dessert memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan emosi karakter, serta menghadirkan berbagai bentuk cinta—mulai dari yang matang dan lembut, hingga yang polos dan bergejolak.

Tampilan dan proses pembuatan dessert menambah kedalaman cerita, sekaligus membangkitkan imajinasi rasa bagi penonton.

Bagi pecinta kisah romantis, karya-karya ini bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menjadi pengalaman ganda antara cinta dan manisnya dessert.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest