Drama Jepang 2026, “Is It Too Late for Sushi?”, dibintangi oleh Hiromi Nagasaku sebagai pemeran utama dan Kenichi Matsuyama sebagai pemeran pria utama.
Ini menjadi reuni keduanya setelah 18 tahun sejak film Don’t Laugh at My Romance (人のセックスを笑うな) yang dirilis pada 2008. Kali ini dengan dinamika hubungan guru dan murid yang berbalik dari karya sebelumnya.
Drama ini mengisahkan seorang wanita yang telah menyelesaikan perannya sebagai ibu penuh waktu dan memutuskan mengejar impian baru sebagai seorang chef sushi. Ia emulai babak kedua dalam hidupnya dengan penuh semangat.
Sinopsis Episode Pertama Is It Too Late for Sushi?

Minato Tayama (Hiromi Nagasaku) telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membesarkan putranya sejak sang suami meninggal karena kecelakaan.
Pada musim semi ini, ia melepas kepergian putranya, Nagisa (Motoki Nakazawa), yang akan memulai kehidupan sebagai pekerja baru dan meninggalkan rumah keluarga. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjangnya sebagai seorang ibu.
Kini, di usia 50 tahun, Minato akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa ia memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Namun ketika benar-benar tinggal sendirian, perasaan hampa perlahan mulai muncul. Masa empty nest syndrome atau “sindrom sarang kosong” menjadi ujian tersendiri bagi seorang ibu yang selama bertahun-tahun mencurahkan seluruh hidupnya untuk anak.
Suatu hari, sahabat lamanya Izumi Isoda (Yumiko Udo) mengajaknya bertemu dan menyerahkan sebuah brosur. Brosur tersebut berasal dari sebuah akademi sushi yang menjanjikan para siswanya dapat menjadi chef sushi profesional hanya dalam waktu tiga bulan.
Di tengah kebingungan memikirkan bagaimana menjalani hidup sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar sebagai seorang ibu, Minato secara spontan memutuskan untuk mendaftar.
Pada hari pertama sekolah, ia disambut oleh Kaimi Oedo (Kenichi Matsuyama), instruktur tegas dengan tatapan tajam dan aura yang mengintimidasi.
Teman-teman sekelasnya pun berasal dari latar belakang yang beragam. Ada Funao Tateishi (Shiro Sano), pria elegan yang menjadikan sushi sebagai hobi masa pensiun; Kurumi Kakiki (Yuka Hatsuka), mantan konsultan perusahaan besar yang bercita-cita menjadi chef sushi; serta Sota Mori (Tomoma Yamatoki), pemuda pendiam yang menyimpan banyak misteri.
Di tengah lingkungan baru tersebut, Minato mulai menyadari perbedaan usia, pengalaman, dan semangat yang dimiliki teman-temannya. Perasaan tertinggal perlahan berubah menjadi tekanan yang membebani dirinya.
Saat berjuang menemukan arah baru dalam hidup, kondisi fisik dan mentalnya mulai menurun. Orang pertama yang menyadari perubahan itu dan mengulurkan tangan ternyata adalah sang instruktur, Oedo.
Baca Juga:
Drama Jepang “Before You Are Sentenced to Death” Telah Hadir di Netflix!
Masa Kosong yang Dialami Banyak Orang Tua

Is It Too Late for Sushi? mengangkat kisah seorang wanita biasa yang baru saja menyelesaikan fase membesarkan anak dan mulai mempertanyakan bagaimana ia ingin menjalani hidup selanjutnya.
Melalui latar sebuah akademi sushi yang memadukan tradisi dunia chef sushi dengan nilai-nilai modern, drama ini menghadirkan perjalanan menemukan jati diri, persahabatan, impian, dan kesempatan kedua dalam hidup.
Pesan utama yang ingin disampaikan sangat sederhana: tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.
Bagi banyak orang tua, kepergian anak dari rumah memang meninggalkan rasa sepi dan kehilangan. Namun di balik kesedihan tersebut, tersimpan kesempatan untuk kembali mengenal diri sendiri.
Tak perlu lagi mengatur jadwal anak setiap hari atau memikirkan kebutuhan keluarga tanpa henti. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang bisa berhenti sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa yang Sebenarnya Ingin Aku Lakukan dalam Hidup Ini?”
Produser Yuka Matsumoto menjelaskan bahwa ide drama ini muncul dari keinginan menghadirkan kisah yang dapat memberikan semangat kepada perempuan yang terus berjuang menjalani kehidupan.
Menurutnya, cerita tentang perempuan yang memasuki fase pasca-pengasuhan masih jarang diangkat dalam drama televisi Jepang. Karena itu, tim produksi ingin menghadirkan kisah yang dapat diterima dan dirasakan oleh berbagai generasi penonton.
Komentar Hiromi Nagasaku dan Kenichi Matsuyama
Drama ini menjadi serial televisi komersial pertama yang dibintangi Hiromi Nagasaku sebagai pemeran utama setelah jeda selama 14 tahun.
Ia mengaku sangat terkejut ketika menerima tawaran tersebut. Sejak pertama kali mendengar konsep ceritanya, Nagasaku merasa bahwa drama ini akan menjadi karya yang cerah, hangat, dan mampu memberikan energi positif kepada penonton.
Menurutnya, karakter Minato terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata. Ia memahami perasaan bingung dan tidak pasti yang dialami seseorang ketika memasuki fase baru dalam hidup.
Salah satu tema utama drama ini adalah “hidup untuk diri sendiri”. Namun, Nagasaku menilai hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan karena mengabdikan diri untuk keluarga juga dapat memberikan kebahagiaan tersendiri.
Ia berharap penonton yang mengalami situasi serupa dapat menemukan inspirasi untuk mulai menyadari pentingnya waktu bagi diri sendiri dan perlahan belajar menjalani hidup sesuai keinginan mereka.
Sementara itu, Kenichi Matsuyama mengaku antusias kembali bekerja sama dengan Hiromi Nagasaku setelah 18 tahun.
Ia memerankan Kaimi Oedo, seorang chef sushi profesional yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok serius yang jarang tersenyum dan sangat menjunjung tinggi profesionalisme.
Menariknya, setelah musim sebelumnya berperan sebagai seorang pembuat pastry dalam drama REBOOT, kali ini Matsuyama beralih dari membuat kue menjadi meracik sushi.
Demi menghadirkan penampilan yang meyakinkan, ia bahkan menjalani pelatihan khusus sebelum proses syuting dimulai.
Tidak Pernah Terlambat untuk Memulai Sesuatu yang Baru
Ada sesuatu yang menyenangkan ketika orang dewasa kembali merasakan pengalaman menjadi pelajar.
Mengikuti kelas dengan serius, belajar di rumah, menghadapi ujian, dan berusaha menguasai keterampilan baru bukan lagi kewajiban seperti saat sekolah dulu, melainkan pilihan yang lahir dari minat dan keinginan pribadi.
Melalui perpaduan antara impian, pekerjaan, persahabatan, dan romansa, Is It Too Late for Sushi? menghadirkan kisah hangat tentang orang-orang dewasa yang terus melangkah maju meski diliputi keraguan dan ketidakpastian.
Dengan tema unik yang berpusat pada dunia sushi, drama ini menjadi pengingat bahwa memulai sesuatu yang baru tidak mengenal usia. Selama masih memiliki keinginan untuk belajar dan berkembang, selalu ada kesempatan untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan.



