Kalau berbicara tentang bangunan paling ikonik di Jepang, pasti banyak orang langsung teringat pada “Torii”. Sebagai bangunan tradisional dalam agama Shinto, Torii sudah sangat melekat dalam ingatan banyak orang.
Baik saat Gempa Besar Jepang Timur maupun ledakan bom atom, banyak gerbang Torii yang tetap berdiri kokoh di tempatnya, hingga memicu perbincangan di luar negeri. Kali ini, mari kita mengungkap rahasia di balik hal tersebut.
Rahasia Teknologi Tradisional di Dasar Torii

Dalam kepercayaan Shinto, Torii memiliki makna yang sangat penting. Mereka percaya bahwa setelah meninggal, jiwa manusia akan berubah menjadi burung dan terbang menuju langit. Torii dianggap sebagai tempat singgah sementara sebelum roh tersebut menuju kuil Shinto.
Lalu, mengapa Torii tetap bisa berdiri kokoh meskipun mengalami berbagai bencana alam? Ternyata jawabannya terletak pada struktur konstruksinya yang unik.
Agar gerbang Torii tetap stabil, pada bagian dasar tiangnya digunakan batu khusus yang disebut “Kutsuishi”. Batu ini sebenarnya berlubang di bagian tengah, dan tiang Torii hanya dimasukkan serta disambungkan ke lubang tersebut tanpa dipasang secara benar-benar menyatu. Karena berat Torii sendiri sangat besar maka dalam kondisi normal bangunan ini tetap stabil.
Saat gempa terjadi, justru karena tiang dan Kutsuishi tidak terkunci sepenuhnya, getaran dan tekanan gempa dapat tersebar sehingga mengurangi dampak langsung pada struktur Torii. Saat menghadapi angin topan pun, prinsip yang sama digunakan untuk menahan gaya dari luar.
Kearifan tradisional leluhur Jepang dalam teknik tahan gempa inilah yang menjadi rahasia mengapa gerbang Torii dapat tetap berdiri kokoh.
Baca Juga:
Kenapa Warna Torii Merah Menyala?

Selain fakta bahwa Torii sulit roboh, mungkin ada juga yang pernah penasaran dengan warnanya. Dalam bayangan banyak orang, Torii identik dengan warna merah terang yang mencolok.
Dalam kepercayaan Shinto, warna merah vermilion dianggap sebagai warna yang mampu melawan kekuatan jahat. Warna ini melambangkan energi kehidupan dan dipercaya dapat menangkal bencana. Karena itu, kuil dan bangunan suci di Jepang sering dicat dengan warna merah tersebut, termasuk banyak Torii di shrine.
Namun jika dilihat dari sisi nonreligius, penggunaan warna merah pada Torii ternyata juga memiliki alasan praktis. Jepang sebagai negara kepulauan memiliki tingkat kelembapan tinggi dan curah hujan yang besar. Karena Torii banyak dibuat dari kayu, bangunan ini mudah lapuk akibat lembap.
Bahan utama pewarna merah vermilion pada masa dahulu mengandung merkuri yang memiliki efek antikarat dan antipelapukan, sehingga mampu membantu melindungi Torii dari kerusakan akibat kelembapan dan memperpanjang umur bangunan.
Baca Juga:
Yobai, Tradisi Jepang yang Terlupakan dan Tak Sepatutnya Dilestarikan
Torii dengan Warna Unik di Jepang

Walaupun sebagian besar Torii dicat merah vermilion, di berbagai daerah Jepang juga terdapat Torii dengan warna-warna unik. Ada Torii berwarna biru, merah muda, emas, bahkan di Ashikaga Orihime Shrine di Prefektur Tochigi terdapat Torii dengan tujuh warna berbeda.
Torii dengan warna unik ini memiliki berbagai latar belakang. Ada yang dipengaruhi kepercayaan terhadap dewa tertentu, ada yang berkaitan dengan industri khas daerah setempat, dan ada juga yang sengaja dibuat berbeda untuk menyesuaikan konsep kawasan wisata.
Keberagaman warna tersebut memberikan daya tarik dan estetika tambahan bagi Torii sebagai salah satu arsitektur tradisional Jepang dalam budaya Shinto.
Apakah Kamu Menyukai Fakta Menarik tentang Torii Ini?
Torii merupakan pemandangan yang sangat umum di Jepang. Sosoknya yang berdiri tegak dan kokoh menghadapi berbagai bencana seolah melambangkan kesabaran serta keteguhan orang Jepang.
Jika suatu hari kamu berkunjung ke Jepang, cobalah menikmati keindahan Torii sambil mengingat berbagai fakta menarik ini. Dengan begitu, kamu bisa melihat pesona Torii dari sudut pandang yang berbeda.



