Dikenal sebagai kawasan “kota yang tak pernah tidur” di Tokyo, Roppongi akan kembali menjelma menjadi panggung seni berskala besar pada musim gugur tahun ini.
“ROPPONGI ART NIGHT 2026” akan berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Berpusat di Roppongi Hills, Tokyo Midtown, Mori Art Museum, The National Art Center, Tokyo, dan sejumlah lokasi lainnya, acara ini menghadirkan seni kontemporer, desain, musik, video, serta pertunjukan langsung ke ruang-ruang kota.
Tahun ini, setelah tiga tahun, acara tersebut kembali digelar semalam suntuk. Mulai dari matahari terbenam hingga fajar menyingsing, pengunjung dapat menikmati karya seni dan pertunjukan langsung di sepanjang jalan Roppongi.
Bertepatan dengan Halloween, inilah kesempatan untuk menjelajahi Roppongi pada malam musim gugur di Tokyo dan merasakan festival seni yang berlangsung dari larut malam hingga pagi hari, di tengah suasana kota yang sudah akrab.
“ROPPONGI ART NIGHT”, Membawa Seni ke Seluruh Penjuru Kota
Dimulai pada 2009, “ROPPONGI ART NIGHT” merupakan acara seni berskala besar yang menjadikan kawasan Roppongi sebagai panggungnya.
Acara ini menghubungkan berbagai lokasi, termasuk Roppongi Hills, Tokyo Midtown, Mori Art Museum, The National Art Center, Tokyo, Suntory Museum of Art, 21_21 DESIGN SIGHT, serta kawasan pertokoan Roppongi melalui program seni di ruang publik.
Melalui acara ini, seni tidak hanya hadir di dalam museum, tetapi juga merambah plaza, taman, jalanan, dan bangunan di seluruh kota.
Berpusat pada seni kontemporer, acara ini mencakup berbagai bentuk ekspresi, mulai dari desain, musik, video, instalasi seni hingga pertunjukan langsung.
Berbeda dari pengalaman menikmati karya di ruang pameran konvensional, di “ROPPONGI ART NIGHT”, pengunjung dapat menyusuri jalanan Roppongi sembari menemukan karya-karya seni yang tersebar di berbagai sudut kota. Pengalaman ini menghadirkan keseruan tersendiri ketika seni berpadu dengan lanskap perkotaan sehari-hari.
Menikmati Seni dari Matahari Terbenam hingga Fajar
Sejak pertama kali diselenggarakan, salah satu ciri khas utama “ROPPONGI ART NIGHT” adalah penyelenggaraannya yang berlangsung semalam suntuk.
Terinspirasi oleh festival seni semalam suntuk di Paris, “Nuit Blanche”, acara ini pertama kali digelar pada 2009 dengan waktu penyelenggaraan utama dari matahari terbenam hingga matahari terbit keesokan harinya. Berbagai karya seni dan pertunjukan pun hadir sepanjang malam di berbagai lokasi Roppongi.
Akibat pandemi COVID-19, acara ini sempat ditiadakan pada 2020 dan 2021. Setelah itu, penyelenggara mencoba berbagai format, termasuk memperpanjang durasi acara dan menyesuaikan jadwal kegiatan.
Pada 2023, format semalam suntuk sempat kembali diterapkan, tetapi dalam beberapa tahun terakhir acara ini kembali diselenggarakan tanpa berlangsung sepanjang malam.
Pada 2026, setelah dinantikan banyak pengunjung, “ROPPONGI ART NIGHT” akhirnya kembali menghadirkan format “All Night”. Waktu utama acara tahun ini berlangsung dari pukul 17.00 pada 31 Oktober hingga pukul 06.00 pada 1 November.
Dari matahari terbenam, larut malam, hingga fajar, karya seni dan lanskap perkotaan Roppongi akan memperlihatkan suasana yang berbeda seiring berjalannya waktu.
Baca Juga:
Betsukoe Shrine di Nagoya: Bisa Bawa Hewan Peliharaan untuk Berdoa Di sini!
Berawal dari “Nuit Blanche” di Paris, Seni Prancis Hadir di Roppongi
Selain menghadirkan karya seniman dari Jepang dan berbagai negara, “ROPPONGI ART NIGHT” setiap tahunnya juga mengadakan program tematik bertajuk “RAN Focus”.
Program ini menyoroti kebudayaan seni dari negara atau wilayah tertentu dengan mengundang seniman setempat untuk berpartisipasi melalui berbagai medium, seperti instalasi seni, video, tari, dan pertunjukan langsung.
Setelah Taiwan menjadi tema pada 2024 dan Korea Selatan pada 2025, tahun 2026 akan menyoroti Prancis.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2009, “ROPPONGI ART NIGHT” memang terinspirasi oleh “Nuit Blanche”, festival seni semalam suntuk di Paris.
Pada tahun ini, ketika format semalam suntuk kembali setelah tiga tahun, pemilihan Prancis sebagai tema “RAN Focus” juga menjadi bentuk penghormatan terhadap negara asal festival yang menginspirasi acara tersebut.
Program ini bekerja sama dengan lembaga kebudayaan Paris, CENTQUATRE-PARIS, serta mengundang José-Manuel Gonçalvès, mantan direktur artistik lembaga tersebut, sebagai kurator tamu. Melalui kolaborasi ini, sejumlah seniman Prancis akan membawa karya mereka ke jalanan Roppongi. Berikut beberapa karya yang patut dinantikan.
Cincin Raksasa dari Balon Putih, Charles Pétillon — “WA”
Seniman Prancis Charles Pétillon akan menampilkan instalasi berskala besar berjudul “WA” di Roppongi Hills Arena.
Karya ini terdiri dari dua lingkaran raksasa berdiameter sekitar enam meter yang dibentuk menggunakan banyak balon putih, menciptakan kesan seolah-olah keduanya melayang di tengah kota.
“WA” diambil dari kata Jepang yang berarti harmoni sekaligus lingkaran. Karya ini melambangkan keselarasan, kesatuan, dan siklus waktu. Melalui dua lingkaran yang tersusun vertikal, Pétillon juga menghadirkan kontras antara kefanaan dan keabadian, serta keheningan dan gerakan.
Melayang di Antara Tangga dan Gravitasi, Yoann Bourgeois — “Opening”
Yoann Bourgeois Art Company, kelompok yang memadukan tari, akrobatik, dan instalasi panggung, akan menghadirkan “Opening” di Roppongi Hills Arena.
Para penampil akan berulang kali menaiki dan terjatuh dari tangga yang seolah tidak memiliki ujung. Melalui gerakan tubuh yang presisi, mereka mengeksplorasi gravitasi dan keseimbangan, menciptakan ilusi seakan-akan tubuh kehilangan bobot dan melayang di udara.
Hanya Bermodal Kardus dan Lakban! Bersama-sama Membangun Struktur Raksasa Setinggi 10 Meter
Olivier Grossetête akan menghadirkan program seni partisipatif “A Giant Cardboard Structure Built Together” di Roppongi West Park. Program ini mengajak para pengunjung bekerja sama membangun struktur raksasa yang terinspirasi oleh arsitektur Jepang.
Karya tersebut hanya menggunakan kardus dan lakban, tanpa bantuan alat berat maupun derek. Melalui kerja sama banyak orang, struktur bangunan setinggi lebih dari 10 meter akan didirikan. Dalam proyek ini, proses berkarya bersama menjadi bagian penting dari pengalaman seni itu sendiri.
Boneka Raksasa Berjalan-jalan di Roppongi, Clédat & Petitpierre — “The Bathers”
Duo seniman Prancis Clédat & Petitpierre menghadirkan “The Bathers”, sebuah karya yang terinspirasi oleh tema para pemandian yang kerap muncul dalam lukisan modern.
Dua boneka berukuran besar akan muncul di Tokyo Midtown dan jalanan Roppongi. Terkadang mereka berjemur, terkadang bermain-main, seolah sedang berada di pantai.
Dengan membawa tema klasik dari kanvas ke tengah kota modern, karya ini menghadirkan pemandangan jalanan Roppongi yang jenaka sekaligus sedikit surealis.
Gerakan Buka-Tutup Tanpa Akhir di Atas Panggung Berputar, Yoann Bourgeois Art Company — “Passage”
“Passage” dari Yoann Bourgeois Art Company mengangkat tema “pintu” dan mengeksplorasi berbagai makna yang muncul dari gerakan membuka dan menutup melalui rangkaian gerakan para penampil serta panggung yang berputar.
Instalasi panggung itu sendiri turut berputar mengikuti pertunjukan. Dua gerakan melingkar yang berlangsung bersamaan menciptakan efek visual menyerupai spiral, menghadirkan ilusi siklus buka-tutup yang seolah tidak pernah berakhir.
Baca Juga:
Rekomendasi Tempat Menikmati Daun Musim Gugur di Tohoku 2026
Jelajahi Museum pada Siang Hari, Lengkapi Perjalanan Seni di Roppongi
Roppongi merupakan salah satu kawasan seni dan budaya penting di Tokyo. Karena itu, saat menghadiri “ROPPONGI ART NIGHT”, pengunjung juga dapat memasukkan kunjungan ke museum-museum di sekitarnya ke dalam agenda perjalanan.
Selama periode acara, The National Art Center, Tokyo akan menggelar pameran “Louvre Museum Exhibition: The Renaissance”. Pameran ini menghadirkan lebih dari 50 karya seni, termasuk lukisan, patung, seni grafis, dan karya kriya.
Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah “Portrait of an Unknown Woman” karya Leonardo da Vinci, yang dikenal sebagai “La Belle Ferronnière”. Karya tersebut akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Jepang.
Museum yang sama juga akan menyelenggarakan “Girls’ Manga: INFINITY — Moto Hagio × Ryoko Yamagishi × Waki Yamato”, sebuah pameran yang berfokus pada tiga seniman manga perempuan, yaitu Moto Hagio, Ryoko Yamagishi, dan Waki Yamato.
Sementara itu, Mori Art Museum akan menggelar “Mariko Mori: SANTAN”. Melalui sekitar 40 karya yang mencakup instalasi, patung, dan seni video, pameran ini menampilkan dunia kreatif Mariko Mori yang memadukan seni, filsafat, dan sains.
Informasi Acara “ROPPONGI ART NIGHT 2026”
ROPPONGI ART NIGHT 2026
- Tanggal: Sabtu, 31 Oktober – Minggu, 1 November 2026
- Waktu utama: Sabtu, 31 Oktober pukul 17.00 – Minggu, 1 November pukul 06.00
- Lokasi utama: Roppongi Hills, Mori Art Museum, Tokyo Midtown, Suntory Museum of Art, 21_21 DESIGN SIGHT, The National Art Center, Tokyo, kawasan pertokoan Roppongi, serta berbagai fasilitas mitra dan ruang publik lainnya di kawasan Roppongi.
- Biaya masuk: Gratis. Beberapa kegiatan dan pameran khusus di museum memerlukan tiket tambahan.
- Situs resmi
- Jadwal setiap pertunjukan dan instalasi seni dapat berbeda-beda. Silakan merujuk pada pengumuman terbaru di situs resmi untuk informasi terperinci.
Roppongi, yang selama ini dikenal sebagai “kota yang tak pernah tidur” di Tokyo, akan memperlihatkan wajah malam yang berbeda selama “ROPPONGI ART NIGHT”. Seni meluas dari museum ke jalanan, taman, dan pusat komersial, mengubah seluruh kawasan menjadi panggung seni berskala besar seiring malam yang semakin larut.
Tahun ini, hari pertama acara bertepatan dengan Halloween pada 31 Oktober. Ditambah kembalinya format semalam suntuk setelah tiga tahun, suasana malam musim gugur di Roppongi akan terasa semakin istimewa.
Jika berkunjung ke Tokyo pada musim gugur tahun ini, jangan lewatkan kesempatan untuk menyusuri jalanan Roppongi, menikmati suasana sejak matahari terbenam hingga larut malam, dan merayakan Halloween dengan cara berbeda melalui pengalaman seni di kota yang tak pernah tidur ini.



