Jangan Sampai Berurusan dengan Polisi Jepang! 5 Aturan Tak Tertulis dan Larangan yang Wajib Diketahui Saat Liburan di Jepang

Table of Contents

Belakangan ini, artis Taiwan Tsai Yi-Chen (蔡頤榛), yang sebelumnya dikenal dengan nama panggung “Wu Xiong” (五熊), diduga menuangkan gliserin untuk berdoa di Buddha Footprint Stone (Bussokuseki) yang merupakan salah satu aset budaya penting Jepang di Yakushiji Temple, Nara. Ia kemudian ditangkap polisi atas dugaan merusak aset budaya penting. Peristiwa ini pun mendapat perhatian luas di Taiwan dan Jepang.

Kejadian tersebut membuat banyak orang kembali menyadari bahwa kebiasaan yang dianggap biasa di negara sendiri bisa saja melanggar aturan setempat karena adanya perbedaan budaya dan hukum.

Agar tidak tanpa sengaja melewati batas aturan selama berlibur di Jepang, berikut lima aturan tak tertulis dan larangan budaya yang wajib diketahui sebelum berangkat. Dengan memahaminya sejak awal, perjalanan bisa terasa lebih nyaman dan aman!

Lindungi Aset Budaya Penting Jepang: Jangan Sembarangan Menyentuh

Di berbagai kuil, shrine, dan bangunan bersejarah di Jepang, banyak struktur kayu, torii, ukiran, hingga taman yang termasuk dalam kategori Important Cultural Properties atau aset budaya penting Jepang.

Berdasarkan Law for the Protection of Cultural Properties, tindakan seperti mencoret, mengukir, memanjat, maupun membawa atau menggunakan cairan berminyak di area tersebut dilarang.

Bahkan, menyentuh benda-benda bersejarah seperti perabot berlapis pernis, tiang kayu, atau ema yang tergantung sembarangan juga berpotensi menyebabkan kerusakan yang sulit dipulihkan.

Merusak kondisi atau mengganggu pelestarian aset budaya penting dapat dikenai hukuman hingga 5 tahun penjara atau denda maksimal 1 juta yen. Karena itu, saat berkunjung, hindari menyentuh atau bersandar pada bangunan bersejarah, meletakkan barang pribadi sembarangan, maupun melewati pagar pembatas.

Pahami Aturan Fotografi di Shrine dan Kuil: Hindari Area Terlarang

Saat mengunjungi shrine dan kuil, aturan fotografi menjadi salah satu hal yang paling sering diabaikan. Meskipun sebagian besar area luar diperbolehkan untuk berfoto, bagian dalam bangunan utama, patung Buddha utama, altar, serta area dengan tanda “撮影禁止” (dilarang memotret) tidak boleh difoto. Jika ragu, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada petugas di lokasi.

Di area luar yang diperbolehkan untuk fotografi pun, hindari berdiri tepat di tengah bangunan atau mengambil foto langsung dari depan bangunan utama. Bergeser sedikit ke samping dan mengambil gambar dari sudut miring merupakan pilihan yang lebih baik.

Pastikan juga wajah pendeta, pengunjung lain, atau orang yang sedang beribadah tidak ikut terekam. Jika sedang berlangsung upacara pernikahan atau ritual keagamaan, sebaiknya hentikan aktivitas fotografi.

Selain itu, bagian tengah jalan menuju shrine atau kuil disebut seichū, yang dipercaya sebagai jalur bagi dewa. Karena itu, saat berjalan maupun berhenti untuk mengambil foto, usahakan tetap berada di sisi kiri atau kanan.

Demi menjaga keamanan dan ketenangan lingkungan, sejumlah shrine juga melarang penggunaan tripod, monopod, dan tongkat selfie. Saat mengambil foto, jangan melewati pagar pembatas, menginjak taman, atau menyentuh pohon suci dan batu suci yang dililit shimenawa.

Baca Juga:

Ikuti Urutan yang Benar Saat Menggunakan Temizuya: Selesaikan Semua Tahapan dengan Satu Sendok Air

Sebelum memasuki shrine, pengunjung biasanya membersihkan tangan dan mulut di temizuya sebagai bagian dari ritual untuk menyucikan diri sekaligus menunjukkan rasa hormat.

Pertama, gunakan tangan kanan untuk mengambil satu sendok air dengan hishaku, lalu gunakan air tersebut untuk membasuh tangan kiri. Setelah itu, pindahkan hishaku ke tangan kiri dan basuh tangan kanan.

Berikutnya, pindahkan kembali hishaku ke tangan kanan. Tuangkan sedikit air ke telapak tangan kiri, lalu gunakan air tersebut untuk berkumur sebelum membuangnya secara perlahan.

Perlu diingat, air di temizuya bukan air minum dan tempat tersebut juga bukan wastafel. Jadi, jangan menggunakannya untuk mencuci wajah, membersihkan barang pribadi, atau langsung minum dari hishaku.

Hindari Makan Sambil Berjalan di Jalan: Terapkan Prinsip Makan di Tempat

Bolehkah makan sambil berjalan di Jepang? Wisatawan yang sering berkunjung ke Jepang mungkin sudah menyadari bahwa tempat sampah di jalanan Jepang sangat jarang ditemukan.

Makan sambil berjalan juga dianggap kurang sopan karena makanan atau minuman berisiko mengenai pakaian orang lain maupun bangunan di sekitar.

Karena itu, setelah membeli makanan di kawasan pertokoan, sebaiknya ikuti prinsip makan di tempat yang telah ditentukan. Nikmati makanan di area makan yang disediakan toko, meja berdiri, atau area di dekat toko.

Setelah selesai, kembalikan bungkus makanan, wadah, sumpit, tusuk sate, dan perlengkapan lainnya kepada toko agar dapat dibuang dengan benar sebelum melanjutkan perjalanan.

Perhatikan Hak atas Potret dan Privasi: Jangan Memotret Anak-Anak dan Geisha Tanpa Izin

Saat mengabadikan momen perjalanan selama di jalanan Jepang, aturan yang perlu diperhatikan, yaitu arah kamera dan orang-orang yang berada di dalam frame. Terutama ketika melihat pelajar Jepang yang mengenakan seragam atau anak-anak di taman kanak-kanak, jangan sembarangan memotret secara langsung maupun diam-diam.

Masyarakat Jepang memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap perlindungan privasi anak di bawah umur. Memotret anak tanpa izin, terlebih kemudian mengunggah fotonya ke media sosial, dapat menimbulkan persoalan terkait hak atas potret dan keamanan.

Selain itu, jika berkunjung ke kawasan kota tua seperti Gion, Kyoto, jangan memotret geisha dan maiko secara diam-diam ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja. Hindari pula mengikuti mereka atau memaksa untuk berfoto bersama.

Di sekitar Hanamikoji Street, bahkan telah dipasang papan peringatan yang melarang wisatawan mengambil foto. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenai denda sebesar 10.000 yen.

Bepergian dengan Rasa Hormat dan Pengertian untuk Menciptakan Kenangan Terbaik

Dari berbagai aturan di atas, terlihat bahwa sejumlah larangan yang mungkin tampak merepotkan sebenarnya berkaitan dengan upaya menjaga budaya bersejarah sekaligus menciptakan ruang publik yang nyaman bagi semua orang.

Dengan memahami aturan dan kebiasaan masyarakat setempat selama berada di Jepang, kita dapat menghindari kesalahpahaman maupun masalah yang tidak perlu. Dengan begitu, perjalanan pun bisa menjadi pengalaman yang lebih nyaman dan meninggalkan kenangan indah.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest