Saat makan di restoran, biasanya kita memperhatikan aturan seperti minimum pemesanan atau batas waktu makan, bukan? Di Jepang, restoran juga memiliki aturan yang perlu diikuti para penikmat kuliner.
Namun karena perbedaan budaya, beberapa aturan ini bersifat tidak tertulis. Tanpa dijelaskan pun, orang Jepang biasanya sudah memahaminya.
Akan tetapi bagi wisatawan asing, meskipun kemampuan bahasa Jepang mereka bagus, tapi kalau belum pernah tinggal di sana, rasanya akan sulit untuk mengetahuinya!
Oleh karena itu, kami akan memberikan beberapa informasi mengenai aturan tidak tertulis saat makan di restoran Jepang agar kamu tidak dianggap sebagai turis bermasalah.
Satu Orang Minimal Memesan Satu Menu Utama

Orang Jepang biasanya makan set menu (teishoku), donburi, atau ramen secara individu. Mereka jarang berbagi makanan. Jadi meskipun restoran tidak menetapkan minimum order, konsep “dua orang berbagi satu porsi karena makan sedikit” hampir tidak ada.
Jika kamu hanya memesan minuman atau lauk tambahan, pelayan biasanya akan bertanya lagi, “Mau pesan yang lain?”—ini sebenarnya isyarat agar kamu memesan menu utama.
Walaupun kamu tidak memesan apa pun, restoran mungkin tidak akan mengusirmu, tapi… sebaiknya mengikuti kebiasaan setempat, bukan?
Selain itu, beberapa makanan yang di Indonesia dianggap sebagai makanan utama, di Jepang justru dianggap lauk, seperti gyoza dan setengah porsi udon (半玉うどん). Jadi kalau makan di restoran seperti Ōshō Gyoza, jangan lupa pesan menu utama selain gyoza!
Baca Juga:
Mengapa Jepang Tidak Memiliki Kedai Sarapan?
Di Izakaya Harus Memesan Minuman (Biasanya Alkohol)

Kalimat “Pokoknya mulai dari bir draft dulu” (とりあえず生) sering muncul di drama Jepang, kan? (Sebenarnya kalimat ini bisa terdengar kurang sopan ke pelayan, jadi sebaiknya hati-hati menggunakannya.)
Di izakaya Jepang, ada aturan tidak tertulis bahwa setiap orang minimal memesan satu minuman beralkohol. Kalau tidak minum alkohol, setidaknya pesan minuman non-alkohol.
Jika memilih paket minum sepuasnya (nomihōdai), semua orang dalam kelompok harus membayar paket tersebut—tidak bisa hanya satu orang yang ikut paket sementara yang lain tidak.
Namun, kamu bisa memilih paket minuman biasa (tanpa alkohol), dan yang ingin minum alkohol bisa memesan secara terpisah.
Hidangan Kecil “Otoshi” di Izakaya

Begitu duduk di izakaya, pelayan akan langsung menyajikan hidangan kecil. Perlu diingat: ini bukan gratis, melainkan akan dikenakan biaya!
Ini adalah kebiasaan umum di izakaya. Jika tidak ingin dikenakan biaya untuk hidangan ini, kamu bisa memilih restoran yang mencantumkan “tanpa otoshi” (お通しなし), atau pergi ke izakaya jaringan yang sering dikunjungi wisatawan seperti Torikizoku atau Torimero—menu dan harganya biasanya bisa dicek online.
Tidak Makan Sambil Berjalan

Di pasar malam Indonesia, kita sering makan sambil jalan-jalan. Namun di Jepang, saat membeli makanan seperti dango atau takoyaki di festival atau kios jalanan, tidak diperbolehkan makan sambil berjalan.
Kebanyakan orang akan makan di satu tempat terlebih dahulu, lalu melanjutkan berjalan. Biasanya di sekitar kios juga disediakan area untuk makan, jadi pastikan untuk tidak makan sambil berjalan.
Jadi Penikmat Kuliner yang Baik Membuat Perjalanan Lebih Menyenangkan
Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman budaya. Orang Jepang cenderung sangat halus. Meskipun wisatawan melakukan sesuatu yang kurang sesuai, mereka mungkin hanya menunjukkan ekspresi canggung tanpa mengatakan apa pun. Wisatawan bisa merasakan ketidaknyamanan itu, tapi tidak tahu apa yang salah.
Mengikuti kebiasaan setempat dan memahami aturan tidak tertulis saat makan di restoran Jepang akan membantu kamu menghindari kesalahpahaman yang tidak perlu.
Ingatlah untuk memesan satu menu utama saat makan, dan nikmati minuman saat pergi ke izakaya. Jadilah penikmat kuliner yang baik, bukan turis yang “bermasalah”, dan nikmati perjalananmu di Jepang dengan lebih menyenangkan!




