Dari bahasa, kita bisa memahami kondisi masyarakat. Jika kamu rutin mengikuti “Daftar Kata Tren Tahunan” atau kata slang di Jepang, pasti menyadari bahwa istilah “界隈 (kaiwai)” belakangan ini sering masuk peringkat atas.
Sebenarnya apa arti “kaiwai”? Budaya seperti apa yang sedang tren di kalangan anak muda Jepang? Mari kita kupas lewat tiga istilah populer berikut:
- 風呂キャンセル界隈 (Furo kyanseru kaiwai) / Kelompok batal mandi
- 残業キャンセル界隈 (Zangyō kyanseru kaiwai) / Kelompok “batal lembur”
- 100均財布界隈(百均財布界隈)(Hyakkin saifu kaiwai) / Kelompok “dompet toko 100 yen”
Apa Arti Kata Tren Jepang “Kaiwai”?

Dalam bahasa Jepang, “界隈 (kaiwai)” awalnya berarti “area sekitar suatu wilayah tertentu”. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kata ini digunakan secara kiasan untuk merujuk pada sekelompok orang dengan minat atau kebiasaan yang sama.
Jenis “kaiwai” sangat beragam. Bisa merujuk pada komunitas sesuai minat, seperti “アニメ界隈 (anime kaiwai)” yang artinya “komunitas anime”. Jika digabungkan dengan nama idola atau karakter favorit, maknanya menjadi mirip dengan “pendukung si OO”.
Jika gaya berpakaian sehari-hari didominasi warna biru muda atau gaya jirai (地雷系), maka bisa disebut sebagai “mizuiro kaiwai” (komunitas biru muda) atau “jirai kaiwai”.
Sementara untuk kebiasaan hidup tertentu, orang juga bisa menyebut diri mereka sebagai “kelompok OO” dengan memakai istilah kaiwai. Selain contoh di atas, berikut tiga “kaiwai” tak terduga yang mencerminkan kondisi sosial Jepang saat ini.
Kelompok Batal Mandi (Furo Kyanseru Kaiwai)

Kenapa tidak mandi? Awalnya istilah ini muncul dari sebuah unggahan di platform X, ketika seorang warganet menulis, “Aku benar-benar benci mandi.”
Unggahan tersebut mendapat banyak respons dari orang-orang yang merasa senasib, hingga akhirnya menjadi topik yang ramai diperbincangkan.
Karena gaya hidup modern yang serba sibuk, banyak orang merasa lelah dan jenuh dengan aktivitas mandi. Demi bisa tidur lebih cepat, mereka “membatalkan” mandi sebagai salah satu rutinitas harian, lalu menyebut diri sebagai “kelompok batal mandi”.
Meski frekuensi tidak mandi tiap orang berbeda-beda, survei daring menunjukkan bahwa mereka yang jarang mandi rata-rata mandi dua hingga tiga hari sekali.
Selain faktor kelelahan mental atau gangguan psikologis yang membuat orang enggan melakukan aktivitas sehari-hari, ada juga alasan seperti “tidak keluar rumah jadi tidak perlu mandi” atau “persiapan sebelum dan sesudah mandi terlalu merepotkan”.
Sebagian orang menilai bahwa masyarakat Jepang selama ini memegang nilai bahwa “mandi setiap hari adalah hal yang wajar”, sehingga golongan ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap norma tersebut.
Istilah “kelompok batal mandi” bahkan masuk 10 besar kata tren tahun 2024, mencerminkan kelelahan psikologis Generasi Z.
Baca Juga:
Apa Itu Jinshin Jiko dan Tachi Oujou dalam Perkeretaapian Jepang?
Kelompok Batal Lembur (Zangyō Kyanseru Kaiwai)

Jika tekanan hidup membuat orang enggan mandi, tekanan kerja membuat orang ingin menolak lembur. Setelah “kelompok batal mandi” viral, muncul tren “kelompok batal lembur”.
Di Jepang yang terkenal dengan budaya lembur, banyak anak muda kini memilih pulang tepat waktu saat jam kerja berakhir.
Mereka berpendapat, “Jika lembur tidak meningkatkan produktivitas, lebih baik tidak usah lembur.” Menurut mereka, tidak lembur bukan berarti tidak bertanggung jawab, melainkan karena “nilai efisiensinya terlalu rendah”.
Meski ada yang mengkritik dengan komentar seperti “anak muda zaman sekarang”, perubahan ini juga mendorong perusahaan untuk memikirkan kembali bagaimana meningkatkan produktivitas individu dalam waktu kerja yang terbatas, sehingga hasil organisasi tetap optimal.
Sikap yang mengutamakan kebebasan dan otonomi ini bahkan tercermin dalam pilihan dompet mereka.
Kelompok Dompet Toko 100 Yen (Hyakkin Saifu Kaiwai)

Saat mendengar kata dompet, kebanyakan orang mungkin membayangkan produk bermerek atau berbahan kulit asli yang tahan lama dan stylish. Namun, anak muda Jepang kini justru menyukai kantong plastik beritsleting murah dari toko serba 100 yen.
Dengan semakin populernya pembayaran digital, orang tidak lagi perlu membawa banyak uang tunai. Kebutuhan akan dompet besar dan mahal pun berkurang.
Desain plastik transparan memudahkan melihat isi di dalamnya dan praktis saat mengambil uang receh atau koin. Bagi perempuan, kantong ini juga bisa memuat lipstik dan kosmetik sekaligus, sehingga menjadi pilihan yang ringan dan praktis.
Produk kantong beritsleting dari DAISO atau Seria pun kini kerap terlihat digunakan sebagai dompet di jalanan.
Kamu Termasuk “Kaiwai” yang mana?
Itulah tiga kata tren yang mencerminkan kondisi sosial Jepang masa kini. Apakah kamu menemukan golongan yang paling menggambarkan dirimu?
Mungkin pada 2026 akan muncul lebih banyak lagi “kaiwai” baru. Mari kita nantikan daftar kata atau istilah tren berikutnya!




