Malatang Jadi Tren Baru di Jepang, Para Anak Muda Rela Antre Panjang

Table of Contents

Di cuaca dingin seperti ini, biasanya orang akan mengajak teman untuk makan hot pot. Namun sejak tahun 2025, makanan musim dingin favorit anak muda di Jepang justru berubah menjadi “malatang”, dan antrean panjang terlihat di depan hampir setiap tokonya.

Jaringan restoran malatang “Qibao”, yang awalnya berdiri di Shibuya, kini telah membuka hampir 30 gerai di Tokyo dan bahkan berekspansi hingga Hokkaido.

Beberapa pemilik toko menyebutkan bahwa sebelumnya hampir 90% pelanggan mereka adalah wisatawan Tiongkok, tetapi sejak Agustus 2025 situasinya berubah drastis: pelanggan Jepang justru menjadi mayoritas. Lantas, bagaimana hidangan asal Tiongkok ini bisa merebut hati para anak muda di Jepang?

Standar Baru Pilihan Makanan Wanita Jepang Masa Kini

Masakan Tiongkok malatang awalnya populer di Korea lewat unggahan idol K-POP. Kemudian, secara tidak langsung ikut populer di kalangan anak muda Jepang.

Masakan tradisional Jepang seperti set menu biasanya tidak memberi banyak ruang untuk mengubah pilihan lauk atau menyesuaikan rasa.

Sebaliknya, sistem memilih bahan sendiri pada malatang membuka wawasan baru bagi anak muda Jepang tentang cara menikmati makanan.

Wanita Jepang yang mengejar gaya hidup sehat dan manfaat kecantikan bisa bebas memilih sayuran, jenis mi, dan tingkat kepedasan sesuai selera.

Bahan yang sering digunakan dalam malatang seperti bihun dan mi lebar memiliki kalori rendah. Ditambah kuah herbal yang dimasak dari berbagai rempah obat, membuatnya terasa sehat sekaligus lezat. Karena itu, malatang juga digemari oleh mereka yang sedang diet.

Biasanya, toko menyediakan lebih dari 50 jenis sayuran dan bahan tambahan, dengan sistem harga berdasarkan berat. Pelanggan mengambil sendiri bahan dari etalase pendingin untuk “mengustomisasi” isi mangkuk mereka—sebuah pengalaman yang menyenangkan.

Selain itu, karakter rasa khas masakan Tiongkok juga menjadi daya tarik tersendiri bagi orang Jepang.

Baca Juga:

BLUE POND Kini Resmi Buka di Daimaru Sapporo!

Darah Bebek Jadi Bahan Unik, Rasa “Bikin Ketagihan” Picu Tren “Marahuo”

Bahan seperti darah bebek dan mi serut, yang bagi kita merupakan makanan sehari-hari, justru dianggap sangat unik oleh orang Jepang.

Rasa “mati rasa” (ma) dari lada Sichuan yang menjadi ciri khas malatang juga jarang ditemui dalam masakan Jepang.

Banyak orang mengatakan, “kalau suka pedas pasti akan suka,” “meski pedas tapi bikin ketagihan,” bahkan “bisa makan dua sampai tiga kali seminggu.”

Sensasi lidah yang kesemutan punya daya tarik magis yang membuat orang ingin terus kembali.

Beberapa media Jepang menyebut malatang sebagai “hot pot untuk satu orang”. Berbeda dari hot pot tradisional, meski tidak ada teman, siapa pun bisa datang sendiri saat ingin makan sesuatu yang hangat.

Namun, ada juga mahasiswa Jepang yang justru janjian dengan teman-temannya untuk “berburu toko malatang”.

Saat awal tren ini muncul, antrean harian hanya sekitar 50 orang, tetapi setelah meledak popularitasnya, jumlahnya melonjak hingga lebih dari 160 orang, menunjukkan betapa tingginya antusiasme.

Jika dulu wanita Jepang mempopulerkan bubble tea dan menyebut aktivitas meminumnya sebagai “tapi-katsu (タピ活)”. Kini, mereka juga menyebut aktivitas makan malatang sebagai “mara-katsu (マラ活)”.

Karena cocok dengan kebutuhan wanita akan asupan sayur dan pola makan bebas gluten, sekaligus menawarkan cita rasa yang belum banyak ada di Jepang, malatang pun meledak popularitasnya.

Gerai Waralaba Berkembang Pesat

Saat ini di Tokyo dapat ditemukan jaringan seperti “Qibao Malatang”, “Yang Guofu Malatang”, dan “Chuan Chuan Xiang Malatang”, yang terkonsentrasi di kawasan Shibuya, Akasaka, dan Ikebukuro.

Di antaranya, Qibao Malatang telah membuka hampir 50 gerai di Jepang. Yang Guofu Malatang yang juga banyak dibicarakan, telah membuka lebih dari 6.000 cabang di seluruh dunia.

Kira-kira makanan apa lagi yang akan populer di Jepang selanjutnya? Demikian pengenalan tren malatang di Jepang. Jika berwisata ke Jepang, apakah kamu tertarik untuk mencobanya?

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest