Selain Chibi Maruko-chan, mangaka Momoko Sakura juga menciptakan karya klasik lain yang tak kalah dicintai di Jepang, yaitu COJI-COJI (コジコジ). Meski telah hadir sejak puluhan tahun lalu, serial ini masih memiliki banyak penggemar hingga sekarang. Lantas, apa yang membuat karakter utama COJI-COJI begitu istimewa?
Mengenal COJI-COJI dan Karakter Utamanya
Bagi banyak orang, Chibi Maruko-chan tentu sudah tidak asing lagi. Manga karya Momoko Sakura tersebut menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah manga Jepang. Namun, COJI-COJI juga merupakan salah satu karya representatif sang mangaka.
Manga ini mulai diserialkan pada tahun 1994, kemudian diadaptasi menjadi anime yang tayang di televisi pada 1997.
Ceritanya berpusat pada COJI-COJI yang tinggal di Fairy Tale Kingdom (Meruhen no Kuni), sebuah negeri tempat berbagai makhluk unik hidup berdampingan. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi kisah yang hangat, lucu, dan dialog-dialog jenaka. Setiap karakternya memiliki kepribadian yang khas, sehingga semakin mengikuti ceritanya, semakin banyak pula pesona yang bisa ditemukan.
Menariknya, karakter COJI-COJI lahir dari sebuah gambar iseng yang dibuat Momoko Sakura. Karena merasa sosok tersebut terlihat lucu dan menggemaskan, ia pun memberinya nama COJI-COJI.
Selain namanya, hampir tidak ada informasi lain tentang dirinya. Usianya tidak diketahui, jenis kelaminnya pun tidak pernah dijelaskan, bahkan asal-usulnya juga menjadi misteri. Ia digambarkan sebagai makhluk misterius yang datang dari luar angkasa.
COJI-COJI memiliki sifat yang polos dan jujur. Ia selalu mengatakan apa yang dipikirkannya dan melakukan apa yang diinginkannya tanpa memedulikan pandangan orang lain. Ia hidup dengan bebas, tanpa beban, dan menjadi dirinya sendiri. Justru karena kepolosan itulah, kata-kata sederhana yang diucapkannya sering kali mampu menyentuh hati banyak orang.
Baca Juga:
PUPPET SUNSUN, Boneka Berusia 6 Tahun yang Penuh Pesona Menggemaskan
Kata-Kata COJI-COJI yang Sederhana, tetapi Sarat Makna
Pada episode pertama anime atau bab pertama manga, COJI-COJI mendapatkan nilai minus lima dalam ujian sihir karena salah menuliskan namanya. Nilainya yang seharusnya nol bahkan masih dikurangi lagi.
Guru sekolah kemudian memanggilnya dan menegur bahwa ia tidak memiliki semangat untuk berkembang. Guru itu bertanya apakah ia hanya ingin menghabiskan hari-harinya dengan bermain, makan, dan tidur.
COJI-COJI menjawab dengan santai,
“Memangnya itu salah? Memangnya tidak boleh hanya bermain, makan, dan tidur?”
Kalimat tersebut terdengar sangat sederhana, tetapi jika dipikirkan lebih dalam, memang tidak ada yang salah dengan menjalani hidup seperti itu selama tidak melanggar hukum atau merugikan orang lain.
Melalui pertanyaan tersebut, COJI-COJI seolah mempertanyakan standar dan ekspektasi yang dibentuk oleh masyarakat tentang seperti apa seseorang “seharusnya” menjalani hidup.
Tak lama kemudian, sang guru kembali bertanya,
“Kalau begitu, nanti kamu ingin menjadi orang seperti apa?”
COJI-COJI pun menjawab dengan mantap,
“Aku ya COJI-COJI. Dari sejak lahir sampai nanti pun, aku akan tetap menjadi COJI-COJI.”
Jawaban itu menggambarkan cara pandangnya terhadap kehidupan.
Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dibebani harapan dari keluarga, teman, maupun guru agar menjadi seseorang yang hebat. Kita juga sering merasa bingung harus menjadi pribadi seperti apa.
Namun bagi COJI-COJI, tidak ada jawaban mutlak. Kita tidak harus menjadi sosok tertentu. Yang terpenting adalah menjadi diri sendiri.
“Bernapas, Itulah Cara Menjalani Hidup”
Pada episode ke-11 anime atau bab ke-13 manga, malaikat bernama Gosaku, salah satu teman sekelas COJI-COJI, merasa rendah diri karena penampilannya.
Melihat hal itu, COJI-COJI hanya berkata bahwa Gosaku tetap hidup seperti biasa, lalu tiba-tiba mengucapkan kalimat,
“Tarik napas, hembuskan napas. Itulah cara menjalani hidup.”
Sekilas kalimat tersebut terdengar tidak masuk akal.
Namun jika direnungkan, sulit menemukan letak kesalahannya.
Pada dasarnya, hidup memang sesederhana bernapas. Mungkin banyak hal yang selama ini kita anggap penting sebenarnya tidak sepenting itu. Tidak semua hal perlu dipikirkan secara berlebihan hingga membuat diri sendiri merasa cemas.
Filosofi Hidup COJI-COJI
COJI-COJI mungkin terlihat konyol dan nyeleneh di permukaan. Namun justru di balik ucapan-ucapannya yang terdengar sederhana, tersimpan banyak makna yang mengajak penonton merenungkan kehidupan.
Ketika dinikmati dari sudut pandang orang dewasa, COJI-COJI bukan hanya sekadar manga komedi, melainkan juga sebuah karya yang menghadirkan filosofi hidup dengan cara yang ringan dan penuh humor.
Melalui karakter ini, Momoko Sakura seolah mengingatkan bahwa kita tidak perlu terus-menerus hidup mengikuti penilaian atau ekspektasi orang lain.
Terkadang, menjalani hidup dengan jujur pada diri sendiri, menerima apa adanya, dan tetap menjadi diri sendiri adalah bentuk kebebasan yang paling sederhana, sekaligus paling sulit untuk dilakukan.



