Panda Terakhir Telah Pergi, Jepang Resmi Memasuki Era Tanpa Hewan Menggemaskan Tersebut!

Table of Contents

Pada pukul 8 malam tanggal 27 Januari 2026, dua panda kembar Kebun Binatang Ueno, Jepang, yaitu “Xiaoxiao” dan “Leilei”, menaiki pesawat dari Bandara Narita menuju Tiongkok.

Peristiwa ini menandai dimulainya era “nol panda” di Jepang. Kejadian tersebut pun memicu berbagai reaksi dan diskusi hangat di kalangan warganet Jepang. Mari kita simak bersama.

54 Tahun Lalu, Panda Pernah Menjadi Fenomena di Jepang

Pada tahun 1972, Jepang dan Tiongkok menjalin hubungan diplomatik. Untuk memperingati hal tersebut, Tiongkok menghadiahkan dua ekor panda bernama “Kang Kang” dan “Lan Lan” kepada Kebun Binatang Ueno di Tokyo.

Sejak tiba di Ueno, panda-panda tersebut dengan cepat menarik perhatian publik lewat penampilan mereka yang lucu dan menggemaskan.

Mereka mengumpulkan banyak penggemar dan memicu “demam panda” di Jepang. Banyak orang berbondong-bondong datang ke kebun binatang hanya untuk melihat langsung pesona panda.

Setelah itu, masih banyak panda yang datang ke Jepang melalui perjanjian antara Jepang dan Tiongkok. Kota-kota seperti Fukuoka, Kobe, hingga Wakayama juga pernah menjadi tempat tinggal panda.

Mengunjungi kebun binatang untuk melihat panda pun menjadi kenangan yang hangat bagi banyak keluarga Jepang.

Panda paling terkenal, “Xiang Xiang”, lahir di Jepang pada tahun 2017 dan menjadi panda pertama yang lahir di negara tersebut. Kehadirannya membawa keuntungan ekonomi besar bagi Kebun Binatang Ueno, bahkan muncul istilah “ekonomi Xiang Xiang” untuk menggambarkan pengaruhnya.

Namun seiring berjalannya waktu, dua panda terakhir di Ueno, “Xiaoxiao” dan “Leilei”, akhirnya dipulangkan ke Tiongkok melalui Bandara Narita. Hal ini membuat Jepang kembali memasuki era “nol panda” setelah 54 tahun.

Mengapa Jepang Kehilangan Semua Panda?

Banyak warganet bertanya-tanya mengapa semua panda di Jepang kini telah pergi. Alasan sebenarnya cukup sederhana. Panda adalah hewan langka sekaligus simbol nasional Tiongkok.

Panda yang dipamerkan di berbagai negara pada dasarnya adalah hasil sistem peminjaman dari Tiongkok. Selain itu, anak panda yang lahir di luar negeri juga tetap menjadi milik Tiongkok dan wajib dikembalikan.

Biasanya, sebelum masa sewa berakhir, pihak kebun binatang Jepang akan mengajukan perpanjangan kontrak. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Jepang–Tiongkok menegang karena faktor politik.

Media dan pemerintah Jepang menyatakan bahwa hingga kini belum ada kepastian terkait perpanjangan atau pengaturan baru dari pihak Tiongkok. Akibatnya, Jepang menghadapi kondisi “nol panda”.

Pengembalian Panda Picu Beragam Reaksi Warganet

Kepulangan “Xiaoxiao” dan “Leilei” ke Tiongkok memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat Jepang. Banyak pecinta panda merasa sedih, kesepian, dan kehilangan. Tak sedikit yang berharap panda-panda tersebut bisa kembali ke Jepang.

Bahkan, ada penggemar yang rela pergi ke Sichuan, Tiongkok, untuk bertemu langsung dengan mereka. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kecintaan masyarakat Jepang terhadap panda.

Namun, tidak sedikit pula warganet yang mendukung pengembalian panda. Mereka berpendapat bahwa biaya pemeliharaan panda sangat besar dan tidak sebanding dengan manfaatnya.

Ditambah lagi, citra negatif sebagian wisatawan Tiongkok di Jepang dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian orang mempertanyakan apakah panda masih layak dijadikan simbol persahabatan.

Karena itu, masyarakat Jepang tampak terbelah antara pendapat pro dan kontra terkait keberadaan panda.

Baca Juga:

Padahal Tidak Ada Beruang di Chiba, Namun Reeves’s Muntjac Malah Menimbulkan Masalah

Apakah Jepang Masih Bisa Melihat Panda di Masa Depan?

Lalu, apakah masih ada peluang untuk melihat panda di Jepang di masa depan? Berdasarkan perjanjian kedua negara, semua panda di Jepang adalah milik Tiongkok dan hanya dipinjamkan. Artinya, keputusan utama berada di tangan pemerintah Tiongkok.

Pada November 2025, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membuat pernyataan di parlemen terkait “isu Taiwan”, yang semakin memperkeruh hubungan kedua negara.

Tiongkok pun mengambil sejumlah langkah balasan, seperti melarang warganya berwisata ke Jepang dan membatasi impor hasil laut Jepang.

Beberapa hari lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok hanya menyatakan “menyambut warga Jepang untuk datang ke Tiongkok melihat panda”, tanpa menyinggung soal peminjaman. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan kembalinya panda ke Jepang dalam waktu dekat tergolong kecil.

Isu pengembalian panda telah memicu diskusi luas di kalangan masyarakat Jepang. Terlepas dari pandangan positif maupun negatif, komentar para warganet menunjukkan betapa pentingnya panda di hati mereka.

Bagaimana perkembangan selanjutnya di masa depan, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest