Kenapa Perempuan di Jepang Memberikan Cokelat di Hari Valentine?

Table of Contents

Ada sebuah budaya di Jepang yang cukup unik, yaitu fenomena di mana perempuan memberikan cokelat kepada laki-laki di hari Valentine.

Seperti yang kita tahu, di banyak negara lainnya, budaya memberi cokelat ini biasanya dilakukan oleh laki-laki ke perempuan yang mereka sukai. Namun, budaya ini nampaknya cukup berbeda di Jepang.

Benarkah Hanya di Jepang Perempuan Harus Memberi Cokelat?

Tanggal 14 Februari adalah Hari Valentine yang dirayakan di seluruh dunia. Meski berasal dari budaya Barat yang menyebar ke Asia, di Jepang maupun Indonesia, Valentine menjadi perayaan yang cukup penting.

Namun, bagi yang mengenal budaya Jepang pasti menyadari bahwa dibandingkan negara lainnya, budaya Valentine di negeri sakura ini cukup unik.

Di Jepang, Valentine bukan sekadar hari bagi pasangan untuk saling bertukar hadiah dan makan bersama, tetapi juga menjadi “hari pengakuan cinta” di mana perempuan menyampaikan perasaannya kepada orang yang disukai melalui cokelat. Sejak kapan perbedaan ini muncul? Dan bagaimana bisa terbentuk?

Sejarah Perempuan Jepang Memberi Cokelat saat Valentine

Asal-usul Valentine di Jepang dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20. Awalnya, Valentine bukanlah hari di mana perempuan memberi cokelat kepada laki-laki, melainkan sekadar tradisi Barat yang di Jepang lebih dianggap sebagai bagian dari promosi komersial. Namun, seiring waktu, Valentine di Jepang berkembang menjadi memiliki ciri khas tersendiri.

Salah satu teori asal-usulnya adalah pada pertengahan abad ke-20, merek manisan Jepang terkenal, Mary’s, mengadakan acara Valentine di department store Shinjuku Isetan dan mengusulkan agar perempuan memberikan hadiah kepada laki-laki. Gagasan ini menjadi unik karena didukung oleh kondisi sosial dan faktor komersial saat itu.

Pada masa tersebut, konsumen utama adalah perempuan dan di saat yang sama, pengaruh gerakan feminisme dari Amerika mendorong tren perempuan yang lebih aktif dalam percintaan. Inovasi dari Mary’s Chocolate ini pun mendapat dukungan luas.

Seiring waktu, Valentine di Jepang semakin mengakar. Pada tahun 1970-an, Asosiasi Kakao Cokelat Jepang menetapkan 14 Februari sebagai “Hari Cokelat” dan melalui promosi besar-besaran, semakin mempopulerkan perayaan ini. Menjelang akhir 1970-an, budaya perempuan yang aktif memberi cokelat pun telah melekat kuat hingga sekarang.

Baca Juga:

Mengapa Orang Jepang Jarang Memilih Persalinan Epidural?

Berawal dari Feminisme, Berubah Menjadi Tekanan Bagi Perempuan

Mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa meskipun tradisi perempuan memberi cokelat untuk menyatakan cinta terdengar romantis bagi pelajar, dalam praktiknya, dorongan komersial membuat tradisi ini perlahan menjadi semacam tekanan sosial bagi perempuan.

Di sekolah maupun tempat kerja, terutama di perusahaan besar, masih ada ekspektasi bahwa perempuan harus memberikan cokelat kepada laki-laki di sekitarnya pada Hari Valentine.

Tidak hanya “cokelat untuk orang yang disukai (honmei chocolate)”, tetapi juga “cokelat kewajiban (giri chocolate)” untuk rekan kerja, serta “cokelat persahabatan”.

Bahkan di beberapa perusahaan yang masih tradisional, memberikan cokelat kepada rekan kerja laki-laki menjadi semacam aturan tak tertulis.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya gelombang feminisme baru, semakin banyak perempuan Jepang yang berani menolak budaya ini.

Kini, selain jenis-jenis cokelat tersebut, muncul juga “cokelat hadiah untuk diri sendiri (gohoubi chocolate)”, sebagai bentuk self-reward bagi perempuan.

Selain itu, laki-laki Jepang juga mulai keluar dari batasan gender—mereka bisa membeli cokelat untuk diri sendiri (“ore choco”) atau bahkan memberikan cokelat kepada perempuan sebagai bentuk perasaan (“reverse chocolate”).

Valentine di Jepang yang Semakin Beragam

Budaya Valentine di Jepang di mana perempuan memberi cokelat kepada laki-laki berawal dari dorongan komersial, lalu berkembang hingga kini menghadapi berbagai respons dan perubahan. Hal ini mencerminkan perubahan dalam lingkungan sosial dan pandangan tentang gender.

Apa pun bentuknya yang terpenting adalah bisa mengekspresikan cinta dengan cara yang beragam dan tentu saja menikmati cokelat yang lezat di hari spesial.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest