Banyak tradisi Jepang yang mencerminkan ketelitian dan keuletan sehingga perlu dipertahankan serta diwariskan ke generasi berikutnya. Namun, ada pula yang sebaiknya tidak dilestarikan.
Kali ini, kita akan mengungkap salah satu tradisi Jepang dari sudut pandang modern yang terkesan “tidak senonoh”, yaitu “yobai”. Meski sering dipandang dengan stigma negatif, perubahan dalam praktik yobai justru mencerminkan perubahan kekuasaan dan posisi perempuan dalam masyarakat Jepang.
Yobai, Romantis atau Praktik Buruk?

Catatan paling awal tentang “yobai” muncul dalam kitab Manyoshu. Tradisi ini merujuk pada praktik di mana seorang pria datang ke rumah seorang wanita untuk mengajak berhubungan intim dan melakukan hubungan seksual.
Pada awalnya, yobai tidak terbatas pada malam hari. Namun karena praktik ini lebih sering terjadi di malam hari, akhirnya istilah “yobai”—yang secara harfiah berarti “merayap di malam hari”— pun menjadi sebutan yang umum digunakan.
Awalnya, tradisi ini berkaitan dengan budaya kuno Jepang yang disebut “perkawinan kunjungan” (tsumadoi), di mana pasangan tidak tinggal bersama.
Pria biasanya datang ke rumah wanita pada malam hari dan pergi keesokan paginya. Anak yang lahir akan menjadi bagian dari keluarga pihak wanita.
Hal ini mencerminkan sistem pernikahan yang berpusat pada perempuan, sekaligus menunjukkan bahwa pada masa itu perempuan memiliki status yang relatif tinggi, termasuk dalam hal kendali dan kebebasan memilih pasangan.
Pada mulanya, yobai hanya dapat terjadi dengan persetujuan kedua belah pihak. Namun, seiring berkembangnya sistem patriarki, terutama memasuki zaman Heian, perempuan mulai diperlakukan sebagai alat aliansi keluarga.
Penurunan status perempuan serta perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan menyebabkan praktik yobai mengalami penyimpangan.
Dalam banyak kasus, praktik ini berubah menjadi hubungan yang dipaksakan atau semi-paksaan terhadap perempuan, bahkan menjadi kebiasaan yang menakutkan.
Di beberapa desa Jepang sebelum modernisasi, bahkan berkembang anggapan bahwa “gadis dan janda di desa adalah milik para pria muda”. Ini membuat yobai berubah menjadi praktik perebutan hak keperawanan perempuan di antara para pria.
Pada akhir zaman Edo ketika sistem monogami mulai menjadi arus utama, praktik yobai dianggap sebagai kebiasaan buruk dan dihapuskan pada masa Restorasi Meiji.
Meski demikian, hingga periode modern, masih ada beberapa komunitas terpencil di pegunungan yang mempertahankan tradisi ini. Bahkan, tragedi pembantaian desa “Insiden Tsuyama” pada tahun Showa 17 juga memiliki kaitan dengan praktik ini.
Baca Juga:
Kenapa Perempuan di Jepang Memberikan Cokelat di Hari Valentine?
Pandangan Masyarakat Jepang Modern terhadap “Yobai”
Seperti yang kita bayangkan, masyarakat Jepang modern dikenal disiplin dan memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap aturan.
Sejak praktik ini secara resmi dilarang pada zaman Edo, hingga saat ini, bahkan ada masyarakat Jepang yang sama sekali belum pernah mendengar tentang Yobai.
Di era modern, kebanyakan orang Jepang mengenal yobai melalui film atau karya visual terkait. Karena pengaruh tersebut, praktik ini sering dikaitkan dengan kesan liar, amoral, dan tidak senonoh.
Meski yobai berkembang menjadi praktik yang merugikan perempuan, tetapi memahami makna awal dari tradisi ini sebelum mengalami penyimpangan tetap dianggap penting oleh penulis.
Baca Juga:
Apakah dengan Melupakan “Yobai” Posisi Perempuan Jepang menjadi Lebih Baik?
Sebagai sebuah tradisi kuno, yobai pernah menjadi bagian dari budaya Jepang dan mencerminkan dinamika sosial serta posisi perempuan di berbagai zaman.
Namun, seiring perkembangan zaman dan perubahan nilai sosial, praktik ini semakin menunjukkan sisi ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan. Oleh karena itu. tradisi Yobai menjadi sesuatu yang tidak dapat diterima di masa kini.
Saat meninjau kembali sejarah, kita tidak hanya perlu mengecam tradisi yang melanggar hak asasi manusia, tetapi juga harus mengambil pelajaran darinya. Ini diperukan agar perempuan dapat memperoleh penghormatan dan kesetaraan yang semestinya dalam masyarakat modern.
Dalam laporan Global Gender Gap tahun 2021, Jepang menempati peringkat ke-120 dari 156 negara. Peringkat ini menunjukkan bahwa masih ada ruang besar bagi Jepang untuk meningkatkan kesetaraan gender.
Meskipun praktik yobai sudah lama ditinggalkan, perempuan Jepang masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, penting untuk mengingat jejak sejarah ini. Bukan sekadar memberi label negatif, tetapi untuk mengambil pelajaran darinya. Semua dilakukan agar perempuan di masa kini dapat memperoleh penghormatan dan kesetaraan yang layak.




