Jepang sejak dulu dikenal sebagai negara dengan banyak aturan tidak tertulis di tempat kerja, sehingga pemerintah Jepang setiap tahunnya berusaha merevisi regulasi demi memperbaiki lingkungan kerja.
Sebenarnya, aturan tidak tertulis apa saja yang pernah ada di Jepang dan mana yang masih bertahan sampai sekarang? Mari kita bahas satu per satu!
Anak Muda Jepang Mengabaikan Aturan Tidak Tertulis?
Pada tahun 2019, sebuah lembaga riset yang meneliti aktivitas kerja menerbitkan buku berjudul “Mengapa Anak Muda Belakangan Ini Tiba-tiba Mengundurkan Diri”, yang menyoroti konflik antara generasi muda Jepang dengan budaya kerja lama dan ini menjadi topik hangat.
Buku tersebut menunjukkan bahwa anak muda Jepang mulai mengabaikan “aturan tidak tertulis” yang selama ini terakumulasi di dunia kerja.
Dibandingkan menyenangkan atasan dan menghabiskan waktu untuk “membaca situasi”, mereka lebih mementingkan “nilai efisiensi kerja (CP value)” dan percaya pada meritokrasi. Hal ini membuat beberapa budaya aturan tidak tertulis yang telah lama ada di Jepang mulai terguncang.
Hari ini kita akan mengulas beberapa aturan tidak tertulis yang perlahan mulai hilang di dunia kerja Jepang. Yuk kita lihat bersama!
Baca Juga:
Karyawan Paling Junior Harus Mengurus Pekerjaan Remeh dan Menjawab Telepon

Di Asia, senioritas sangat penting. Dalam banyak perusahaan tradisional Jepang, ada aturan tidak tertulis bahwa karyawan baru dengan posisi terendah harus menanggung berbagai pekerjaan kecil yang tidak ingin dilakukan orang lain. Salah satu yang paling membuat stres adalah menjawab telepon.
Selain itu, dulu bahkan ada aturan seperti “karyawan baru perempuan bertugas menjawab telepon eksternal; karyawan baru laki-laki menjawab telepon internal”.
Meskipun sekarang tempat kerja sudah tidak seketat itu dalam menuntut hal ini, masih ada perusahaan yang mempertahankan budaya tersebut.
Karyawan Baru Harus Membersihkan Toilet

Di beberapa perusahaan kecil tradisional, karena pembuangan sampah dan pembersihan toilet tidak bisa dialihdayakan, pekerjaan kebersihan ini secara alami dibebankan kepada karyawan baru.
Banyak generasi tua Jepang juga percaya bahwa karyawan baru adalah “kertas kosong” yang harus dilatih mentalnya.
Salah satunya melalui pekerjaan kasar seperti membersihkan toilet yang dianggap kotor agar mereka lebih tangguh dan menghargai setiap aspek kecil perusahaan. Hal ini sering dianggap sebagai bagian wajib dari pelatihan karyawan baru di beberapa perusahaan.
Tentu saja, pekerjaan seperti ini semakin tidak disukai oleh generasi muda dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan besar sudah tidak lagi memiliki budaya ini atau paling hanya sebagai simbolis saat pelatihan awal saja.
Sementara perusahaan kecil yang tidak punya anggaran untuk outsourcing kebersihan mungkin masih membebankannya pada karyawan baru.
Baca Juga:
Mengapa Orang Jepang Gemar Melipat Seribu Burung Bangau?
Perempuan Harus Menyajikan Teh dan Melayani Atasan

Sebagai perempuan, ini mungkin aturan yang paling banyak dikritik. Dahulu, tempat kerja di Jepang masih mempertahankan pandangan patriarkal.
Meskipun masuk sebagai karyawan baru di waktu yang sama, perempuan sering secara tidak tertulis diwajibkan menuangkan teh untuk senior saat acara makan bersama.
Bahkan, ada budaya yang sengaja menempatkan karyawan perempuan termuda di sebelah pimpinan agar bisa melayani kapan saja.
Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan kesetaraan dan isu pelecehan kekuasaan, aturan seperti ini kini semakin jarang ditemukan.
Ditambah lagi, di era media sosial saat ini, perusahaan besar sangat menjaga citra dan khawatir terhadap laporan pelecehan dari karyawan perempuan, sehingga praktik ini makin jarang dibicarakan.
Mengulang Instruksi Atasan dan Mencatat saat Senior Berbicara

Mungkin kalian pernah melihat di drama atau anime Jepang, karyawan baru dengan rajin memegang buku catatan kecil, mengulang setiap kata dari atasan, lalu mencatatnya? Ternyata ini juga merupakan salah satu aturan tidak tertulis di dunia kerja Jepang!
Walaupun mencatat memang baik untuk pembelajaran, sebenarnya kemampuan mengingat dan belajar berbeda-beda tiap individu, sehingga tidak seharusnya menjadi kewajiban mutlak.
Bahkan pernah ada kasus karyawan baru yang tidak memahami aturan ini dan tidak selalu terlihat mencatat, lalu mengalami perundungan di tempat kerja. Namun, jika kamu tipe yang mudah lupa, sebaiknya tetap rajin mencatat!
Perempuan Hanya Bisa Naik Jabatan sampai Kepala Seksi?

Dulu, dalam aturan tidak tertulis di Jepang, karier perempuan bahkan memiliki “batas atas”. Ada anggapan bahwa perempuan hanya bisa naik jabatan sampai kepala seksi.
Alasannya beragam, misalnya kekhawatiran bahwa perempuan akan keluar setelah menikah atau melahirkan, sehingga perusahaan enggan memberikan posisi manajerial.
Namun sekarang, banyak perempuan yang berhasil menembus batas tersebut, bahkan menjadi pengusaha dan pemimpin perusahaan.
Meski begitu, menurut survei di Jepang, pada tahun 2023 persentase perempuan yang menduduki posisi manajerial hanya 12,7%, jauh lebih rendah dibanding negara-negara Barat. Tampaknya, untuk benar-benar menghapus aturan tidak tertulis ini masih membutuhkan waktu.
Perubahan Cara Pandang Kerja! Bagaimana Menghadapi Era Kekurangan Tenaga Kerja?
Sebenarnya bukan hanya Jepang, di Indonesia pun masih banyak perusahaan tradisional dengan aturan tidak tertulis yang membuat frustrasi.
Generasi muda kini tidak selalu mau menahan hal-hal yang tidak masuk akal tersebut dan lebih memilih memiliki beberapa pekerjaan sekaligus agar hidup lebih fleksibel.
Menghadapi era kekurangan tenaga kerja ini, bagaimana Jepang akan mengubah budaya kerja mereka? Ini menjadi hal yang patut terus kita perhatikan.




