Banyak orang pasti pernah melihat anime Jepang seperti Chibi Maruko-chan yang menggambarkan bahwa di musim dingin, anak-anak Jepang masih memakai celana pendek ke mana-mana.
Bahkan gadis-gadis muda pun sering memakai syal dan sweater tapi tetap memperlihatkan kaki mereka demi gaya. Apakah orang Jepang memang tidak takut dingin?
Suhu musim dingin di Jepang cenderung kering yang membuat orang Jepang lebih mudah memadukan outfit. Namun, ada satu jenis jaket yang kalau kamu pakai di jalanan Jepang, orang-orang akan langsung tahu kalau kamu orang asing. Itu karena pakaian tersebut hampir tidak pernah dipakai oleh orang Jepang sehari-hari.
Pakaian yang dimaksud adalah jaket bulu angsa (down jacket) panjang yang cukup populer di kalangan orang asing sebagai pakaian musim dingin!
Jaket Bulu Panjang Jarang Dipakai di Jepang?

Jaket bulu angsa seperti perlengkapan wajib musim dingin bagi orang-orang di luar Jepang. Terutama model ringan dan panjang yang nyaman dan sangat disukai, khususnya oleh para ibu.
Saat bepergian ke Jepang, banyak orang asing membawa jaket bulu panjang ringan untuk menghangatkan diri. Namun ternyata, gaya seperti ini justru cukup jarang terlihat di Jepang. Banyak orang bahkan berkata, “Dari jauh saja sudah bisa tahu ada turis!”.
Walaupun suhu musim dingin di Jepang lebih rendah dan bahkan turun salju, baik di kereta komuter maupun di dalam ruangan, pemanas selalu dinyalakan dengan suhu yang cukup tinggi—bahkan bisa membuat orang berkeringat jika memakai jaket bulu. Perbedaan suhu antara luar dan dalam ruangan cukup besar.
Karena itu, orang Jepang jarang memakai jaket bulu panjang saat keluar rumah. Sebagai gantinya, mereka lebih sering memakai mantel atau coat.
Selain tidak terlalu panas saat masuk ruangan, hal ini juga lebih cocok dengan aturan berpakaian di kantor.
Jika pekerja kantoran memakai jas lalu ditambah jaket bulu di luar, terlihat kurang serasi. Jadi, mereka biasanya memilih mantel panjang.
Selain itu, orang Jepang lebih sering bepergian dengan kereta atau mobil. Ini juga membuat jaket bulu angsa tidak terlalu umum terlihat di jalanan Jepang.
Baca Juga:
Ide Outfit Kerja saat Musim Dingin Ala Jepang 2026!
Budaya Pemanas Ruangan Membuat Orang Jepang Suka Gaya Layering

Lalu, bagaimana orang Jepang berpakaian saat musim dingin? Karena adanya perbedaan suhu antara luar dan dalam ruangan akibat pemanas, mereka terbiasa memakai pakaian berlapis (layering), seperti “lapisan bawang”. Bahkan saat sangat dingin, mereka tidak akan berpakaian setebal selimut.
Syal adalah item wajib dalam gaya musim dingin Jepang. Selama tangan, kaki, dan leher tetap hangat, mereka tidak perlu memakai pakaian terlalu tebal. Karena itu, sering juga terlihat orang memakai kaus kaki berlapis atau topi rajut sebagai aksesori musim dingin.
Tentu saja, orang Jepang kadang juga memakai jaket bulu, tetapi biasanya berupa rompi bulu yang dipakai di dalam mantel, atau jaket bulu pendek.
Kecuali untuk pekerjaan fisik, jarang sekali jaket bulu dipakai sebagai lapisan terluar. Untuk pilihan jaket bulu, merek yang paling umum tetap Uniqlo.
Menariknya, merek yang terlihat seperti berasal dari Jepang, Superdry, justru tidak memiliki satu pun toko di Jepang.
Selain karena orang Jepang kurang menyukai gaya yang terlalu tebal, tulisan Jepang yang salah secara tata bahasa seperti “極度乾燥しなさい” juga membuat mereka enggan.
Lagi pula, tidak banyak orang Jepang yang ingin memakai pakaian dengan tulisan aneh seperti “silakan menjadi sangat kering” di tubuh mereka.
Gaya Berpakaian di Jepang semakin Beragam
Yang terpenting tentu saja tetap menjaga tubuh tetap hangat. Baik dengan gaya layering maupun jaket bulu yang tebal, yang paling penting adalah tidak kedinginan!
Dalam beberapa tahun terakhir, tren fashion di Jepang juga semakin beragam dan tidak lagi monoton. Pengaruh media streaming membuat gaya Korea, Eropa, dan Amerika semakin memengaruhi generasi muda Jepang.
Setiap kelompok tentu punya preferensi masing-masing, dan yang terpenting adalah saling menghormati—serta tetap nyaman dan hangat!




