Top 10 Oleh-oleh Jepang yang Paling Merepotkan saat Diterima

Table of Contents

Aplikasi penyedia berbagai emoji “Simeji” secara khusus melakukan serangkaian survei kepada para penggunanya, lalu mengumpulkan hasilnya menjadi berbagai peringkat dan mempublikasikannya di situs khusus dengan nama “Simeji Ranking”.

Kali ini yang dibahas adalah “Top 10 oleh-oleh perjalanan domestik Jepang yang paling merepotkan saat diterima. Yuk, lihat apakah ada juga oleh-oleh yang tidak kamu inginkan!

Survei ini dilakukan dari 12 Juli 2023 hingga 18 Juli 2023, dengan total 1373 responden valid dari pria dan wanita berusia 10–24 tahun.

Peringkat 1: Topeng

“Kapan ya saya bisa memakai topeng ini?”, “Terlalu unik jadi tidak tahu harus ditaruh di mana”, “Seumur hidup tidak akan dipakai, dipajang di kamar juga menakutkan”, “Topeng ini bisa dipajang di mana sih!!!”, “Memakainya terasa sangat memalukan”, “Ingin sesuatu yang lebih praktis”. Dari semua ini, apakah ada yang mewakili perasaanmu?

Karena topeng Jepang biasanya memiliki makna khusus atau digunakan dalam situasi tertentu, bentuknya juga sering tidak ramah, bahkan terkesan menyeramkan. Jadi memang kalau dijadikan oleh-oleh, penerima sering bingung harus bagaimana, tidak heran menjadi peringkat pertama.

Peringkat 2: Pakaian Etnik

“Bayangkan kalau dapat, mungkin malah bingung harus bereaksi bagaimana”, “Saya tidak akan memakainya, juga tidak punya tempat untuk memajangnya”, “Mungkin hanya dipakai saat pertama menerima, tapi menyimpannya juga merepotkan”, “Sepertinya tidak akan pernah dipakai seumur hidup…”

Pakaian etnik Jepang yang paling klasik adalah kimono, yukata, dan jinbei, serta berbagai pakaian khas lainnya. Namun karena selera sangat berbeda-beda dan generasi muda juga tidak terbiasa memakainya, kesempatan untuk dipakai sangat kecil. Apalagi jika itu kimono formal yang mahal, makin jarang digunakan.

Peringkat 3: Tusuk Gigi

“Biasanya juga bisa beli sendiri”, “Yang dari toko serba 100 yen saja cukup”, “Di rumah saya sudah ada tujuh!!”. Walaupun tusuk gigi adalah barang sehari-hari yang praktis, kalau terus menerima banyak variasi tusuk gigi juga tetap terasa merepotkan.

Peringkat 4: Kartu Pos

“Tidak ada orang untuk dikirimi”, “Kartu pos terasa kuno”, “Bukannya foto saja cukup?”, “Selain kartu ucapan tahun baru, jarang dipakai”.

Bagi generasi Z yang terbiasa dengan perangkat digital, kartu pos terasa seperti barang dari abad lalu. Namun penulis sendiri masih suka mengirim kartu pos ke diri sendiri atau orang terdekat saat traveling, menuliskan perasaan saat itu sebagai kenangan perjalanan. Apakah kamu juga punya kebiasaan ini?

Baca Juga:

6 Rekomendasi Oleh-Oleh dari Iwate! Pancake Cumi yang Super Imut Ini, Berani Makan?

Peringkat 5: Kerajinan Tradisional

“Tidak praktis dalam kehidupan sehari-hari”, “Tidak tertarik dengan kerajinan daerah tersebut”, “Secara pribadi tidak akan digunakan”, “Bukan sesuatu yang saya sukai”.

Walaupun Jepang memiliki banyak pengrajin hebat yang terus membuat berbagai karya tradisional, bagi generasi muda yang tidak tertarik, barang ini dianggap kurang berguna dan kurang perlu.

Peringkat 6: Kaos

“Tidak bisa dipakai keluar karena ukuran tidak pas”, “Terlalu ‘norak’ jadi tidak ingin dipakai, tapi kalau tidak dipakai juga tidak enak”, “Saya hanya ingin memakai kaos pilihan sendiri”, “Bingung mau dipakai di mana”.

Selera dan ukuran pakaian setiap orang berbeda-beda, jadi membeli kaos sebagai oleh-oleh cukup sulit jika bukan untuk orang yang sangat dekat.

Baca Juga:

Peringkat 7: Magnet

“Tidak akan digunakan, juga bingung harus bereaksi bagaimana”, “Kulkas tidak terlihat, juga tidak ada tempat lain untuk menempel”, “Sudah punya banyak magnet”.

Saat membeli mungkin terlihat unik dan murah, cocok sebagai oleh-oleh, tetapi ternyata banyak anak muda merasa itu merepotkan.

Padahal penulis sendiri suka mengoleksi magnet khas saat bepergian ke luar negeri sebagai kenangan. Bagaimana menurutmu?

Peringkat 8: Gantungan Kunci

“Sudah terlalu banyak jadi tidak dipakai”, “Hadiah yang sangat merepotkan, tidak bisa dibuang, sangat menyusahkan”, “Pasti tidak akan digunakan”, “Sebagian besar jelek”.

Gantungan kunci adalah oleh-oleh yang paling sering ditemukan dan jadi pilihan banyak orang saat bingung mau beli apa. Tapi kalau terus menerima banyak, memang jadi merepotkan.

Peringkat 9: Kaos Kaki

“Tidak terlalu ingin”, “Lebih baik pilih sendiri”, “Di rumah sudah banyak”, “Bisa beli di mana saja”, “Ukuran tidak pas itu menyebalkan”. Walaupun murah dan praktis, bahkan sering punya motif khas daerah, ternyata tidak terlalu disukai anak muda.

Peringkat 10: Boneka

“Di rumah sudah menumpuk seperti gunung”, “Sudah punya! (banyak sekali!)”, “Tidak ada kesempatan untuk digunakan dan tidak ada tempat untuk menaruh”, “Tidak tertarik dengan boneka”, “Hanya jadi beban barang”, “Akan dibuang di masa depan”.

Walaupun boneka lucu terlihat seperti pilihan oleh-oleh yang baik, selain selera yang berbeda, hampir semua orang sudah punya boneka, dan terlalu banyak hanya akan jadi penumpuk debu.

Menurutmu, oleh-oleh apa yang paling merepotkan saat diterima Setiap generasi tentu memiliki perbedaan pendapat tentang oleh-oleh yang dianggap merepotkan.

Survei ini ditujukan untuk pria dan wanita usia 10–24 tahun. Hasil ini juga bisa jadi referensi bagi orang tua atau orang dewasa saat membeli oleh-oleh untuk anak-anak atau kerabat.

Walaupun niat adalah yang terpenting, menurut penulis, tidak membuat penerima merasa kerepotan juga merupakan makna penting dari sebuah oleh-oleh.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest