Dalam dongeng “Pangeran Katak”, sang putri mematahkan kutukan penyihir dan sang katak akhirnya berubah menjadi pangeran.
Namun dalam kehidupan nyata, berbagai bayangan indah tentang cinta atau orang yang kita sukai bisa saja runtuh hanya karena satu tindakan kecil dari mereka, sehingga membuat “pangeran” itu seketika “berubah jadi katak”.
Kali ini, survei yang dilakukan oleh situs aplikasi kencan “Matching App University” akan melihat pengalaman dan pandangan anak muda Jepang terhadap “fenomena frogification”.
Pernah Dengar Fenomena Frogification?

Makna asli “fenomena frogification” adalah ketika orang yang kamu sukai juga menunjukkan perasaan suka kepadamu, justru kamu malah merasa jijik atau tidak suka.
Sebagai istilah tren belakangan ini, maknanya berkembang menjadi kondisi ketika perasaan suka tiba-tiba hilang karena suatu tindakan dari orang yang kita sukai.
Berdasarkan survei terhadap 347 responden dari Generasi Z (18–25 tahun) dan generasi milenial (26–41 tahun), sebanyak 91,1% pria dan wanita Gen Z pernah mendengar istilah ini.
Karena “fenomena frogification” adalah istilah yang populer di media sosial, tingkat pengenalannya sangat tinggi di kalangan generasi muda. Sementara itu, pada generasi milenial, 77,2% responden mengetahui istilah ini.
Walaupun lebih rendah sekitar belasan persen dibanding Gen Z, tingkat pengenalannya tetap cukup tinggi.
Baca Juga:
Yobai, Tradisi Jepang yang Terlupakan dan Tak Sepatutnya Dilestarikan
Perilaku Apa yang Paling Mudah Memicu “Fenomena Frogification” di Jepang?
Survei ini juga meneliti tindakan apa saja yang memicu fenomena tersebut. Meskipun “frogification” bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang gender, apakah ada perbedaan antara pria dan wanita?
Hasilnya menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita sama-sama menempatkan “bersikap sombong terhadap pegawai toko/restoran” sebagai peringkat pertama.
Sementara “cara makan yang buruk”, “membuang sampah sembarangan atau perilaku tidak sopan”, serta “kepribadian buruk dan egois” berada di peringkat kedua hingga keempat (dengan urutan berbeda). Berikut beberapa contoh nyata dari responden:
Bersikap Sombong terhadap Pegawai (Peringkat 1)
- Padahal kami hanya berdua, tapi dia memaksa meminta meja besar untuk enam orang. (Perempuan usia 20-an)
- Sikapnya kasar terhadap pegawai. (Laki-laki usia 20-an)
Cara Makan yang Buruk (Peringkat 3 Pria; Peringkat 2 Wanita)
- Saat makan bersama, saya sadar cara makannya sangat buruk. Setelah itu dia mengajak lagi, tapi saya sudah kehilangan perasaan (Perempuan usia 20-an)
- Saat makan bersama, saya mendengar suara kunyahannya dan langsung merasa ilfeel. (Perempuan remaja)
Membuang Sampah Sembarangan dan Perilaku Tidak Sopan (Peringkat 4 Pria; Peringkat 3 Wanita)
- Membuang bungkus permen sembarangan di pinggir jalan. (Laki-laki usia 30-an)
- Saat saya melihat dia makan dengan siku bertumpu di meja. (Perempuan usia 30-an)
Kepribadian Buruk dan Egois (Peringkat 2 Pria; Peringkat 4 Wanita)
- Suka mengeluh dan mengkritik makanan atau orang lain. (Perempuan usia 20-an)
- Saat kencan pertama ke bioskop, tiketnya sudah habis saat saya beli. Itu sebenarnya tidak bisa dihindari, tapi melihat dia marah dan kesal berlebihan membuat saya sadar dia orang yang sempit pikirannya. (Perempuan usia 20-an)
Mulai dari peringkat kelima, terdapat perbedaan antara pria dan wanita. Pria cenderung memperhatikan kesenjangan antara pasangan dan “idealnya”, sedangkan wanita lebih memperhatikan perilaku tertentu yang dianggap mengganggu.
Misalnya:
- Pria peringkat 5: “kentut atau bersendawa” (23,0%)
- Peringkat 6: “tidak mencukur bulu tubuh” (16,4%).
(Pria tampaknya mudah kehilangan perasaan jika pasangan tidak sesuai dengan gambaran ideal mereka)
- Wanita peringkat 5: “narsis” (18,0%)
- Peringkat 6: “pelit” (17,5%).
(Wanita cenderung memiliki pandangan negatif terhadap pria yang narsis, dan pria yang terlalu pelit juga sulit mendapat simpati)
Berikut beberapa jawaban lain dalam survei. Mungkin kamu juga pernah mengalaminya:
- Saat memesan di restoran, dia menunjuk menu dengan jari kelingking. (Perempuan usia 40-an)
- Saat saya melihat dia panik di kasir. (Perempuan usia 20-an)
- Bagian jempol kaus kakinya sudah tipis sampai kuku terlihat. (Perempuan usia 40-an)
- Saat menatap wajahnya, terlihat bulu hidung keluar. (Perempuan usia 30-an)
- Saat bermain dengan anak anjing, dia memaksakan diri bicara dengan gaya bayi. (Perempuan usia 20-an)
- Saat melihat serangga, dia berteriak histeris berlebihan. (Laki-laki usia 20-an)
- Tertawa terbahak-bahak sambil menepuk tangan dengan mulut terbuka lebar, terlihat seperti nenek-nenek. (Laki-laki usia 20-an)
- Saat saya melihat dia tidur sambil mendengkur. (Laki-laki usia 20-an)
Baca Juga:
Orang seperti Apa yang Mudah Mengalami “Fenomena Frogification”?
Seseorang yang mengalami fenomena ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kepribadian dan pola pikir. Dalam survei, responden yang pernah mengalami “frogification” ditanya tentang tipe hubungan mereka.
Peringkat pertama adalah “menyukai lawan jenis yang selalu berada di lingkungan yang sama (sekolah, tempat kerja, atau komunitas)”, dan peringkat kedua adalah “mengutamakan nilai-nilai pribadi (inner qualities)”.
Peringkat atas didominasi tipe yang berhati-hati. Tipe ini membutuhkan waktu untuk menilai kepribadian dan kecocokan pasangan.
Oleh karena itu, “orang yang berhati-hati dalam cinta” lebih mungkin mengalami “frogification” karena perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Sebaliknya, peringkat bawah seperti “hubungan cinta tidak bertahan lama (kurang dari satu tahun)” dan “saya selalu jatuh cinta pada tipe yang berbeda-beda” lebih bersifat intuitif.
Orang yang jatuh cinta berdasarkan intuisi tidak terlalu peduli apakah pasangan sesuai dengan ideal mereka. Karena mereka percaya pada intuisi, mereka cenderung menerima pasangan apa adanya.
Oleh karena itu, tipe “yang mencintai berdasarkan intuisi” cenderung lebih kecil kemungkinannya mengalami “frogification”.
Pernahkah kamu Mengalami “Fenomena Frogification”?
“Fenomena frogification” bisa terjadi pada siapa saja, tetapi akan sangat disayangkan jika membuat kita kehilangan kesempatan dalam cinta.
Bagaimanapun juga, tidak ada manusia yang sempurna. Jadi ketika kamu merasa mulai “ilfeel”, cobalah juga untuk melihat sisi baik dari pasanganmu!




