Yasunari Kawabata, Sastrawan Jepang yang Kehilangan Keluarga Sejak Kecil

Table of Contents

Saat berbicara tentang wisata Jepang, menurut Anda apa pemandangan terindah? Mungkin bunga sakura yang berjatuhan di musim semi, pemandangan pantai di musim panas, atau rute menikmati daun merah di musim gugur.

Kali ini, kita akan membahas seorang penulis yang kehilangan orang-orang terdekatnya sejak kecil, melakukan perjalanan ke Izu sendirian di usia 19 tahun, dan meraih Hadiah Nobel Sastra berkat penggambaran lanskap salju Jepang. Ia adalah Yasunari Kawabata.

Kehilangan Keluarga, Menanam Benih Kesepian

Sejak kecil, Yasunari Kawabata harus menghadapi kenyataan pahit ketika kedua orang tuanya meninggal karena sakit. Tak lama kemudian, kakek-nenek yang merawatnya juga wafat.

Pada usia 15 tahun, ia menjadi yatim piatu. Latar belakang ini membuatnya membawa rasa kesepian dan melankolia yang berbeda dari kebanyakan orang sejak usia dini.

Setelah lulus universitas, ia bersama Yokomitsu Riichi mendirikan majalah Bungei Jidai dan menjadi tokoh penting dalam aliran Shinkankakuha (aliran sensasi baru).

Dalam novel semi-otobiografi Shōnen, ia mengenang masa tinggal di asrama sekolah menengah, termasuk perasaan cinta yang murni terhadap adik kelas satu kamar.

Dalam Kyoto, ia menggambarkan kehidupan seorang gadis bernama Chieko yang bertemu saudara kembarnya dalam suasana Festival Gion, dengan latar kehidupan Kyoto dan pergantian musim yang digambarkan secara halus.

Karya-karyanya kerap memancarkan kesedihan dan keindahan khas Jepang. Di antara yang paling representatif adalah Snow Country dan The Dancing Girl of Izu.

Baca Juga:

Wakana Yamazaki Meninggal Dunia setelah 30 Tahun Menjadi Pengisi Suara Ran Mouri di Detective Conan

Snow Country

“Begitu melewati terowongan panjang di perbatasan prefektur, sampailah di negeri salju.”

Kalimat pembuka yang terkenal ini berasal dari Snow Country. Deskripsi suasana yang begitu hidup, konflik emosional antara tiga tokoh utama, serta nasib yang sunyi dan dingin, menjadikan karya ini sarat dengan estetika Jepang yang halus.

Pada tahun 1968, karya ini mengantarkan Kawabata meraih Hadiah Nobel Sastra, menjadikannya orang Jepang pertama yang menerima penghargaan tersebut.

Kisahnya berlatar di Yuzawa, Prefektur Niigata. Sebuah ryokan (penginapan tradisional) bernama Takahan dikenal sebagai “Penginapan Snow Country”.

Konon, Kawabata menulis karyanya di kamar tersebut, yang kini masih dilestarikan dan bisa dikunjungi, bahkan tersedia teater kecil untuk menonton adaptasi filmnya.

The Dancing Girl of Izu

Bahkan bagi yang tidak mengenal Kawabata, menyebut “Izu” sering kali langsung mengingatkan pada “penari”.

Kisah ini menceritakan seorang mahasiswa penyendiri bernama Kawashima yang melakukan perjalanan ke Izu sendirian, bertemu dengan sekelompok seniman keliling, dan menemukan kehangatan serta penghiburan dalam kebersamaan mereka.

Lahir dengan Kesepian, Berjalan Menuju Akhir Kehidupan

Kawabata, yang belajar sastra Jepang di Universitas Kekaisaran Tokyo, dalam pidato Nobel-nya juga banyak membahas sastra Jepang dan puisi tradisional untuk menjelaskan estetika Jepang.

Namun, sosok yang begitu memahami keindahan ini justru memilih mengakhiri hidupnya pada tahun 1972. Meski demikian, kehidupannya seakan terus berlanjut melalui karya-karyanya.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest