Ichiyo Higuchi: Penulis Perempuan Legendaris yang Melewati Kerasnya Kehidupan

Table of Contents

Bagi para pembaca yang pernah bepergian ke Jepang atau menukar uang yen, pasti tidak asing dengan sosok yang tercetak besar pada uang kertas Jepang.

Selain nama yang paling dikenal seperti Fukuzawa Yukichi, tokoh-tokoh lainnya juga memiliki kisah yang luar biasa.

Pada uang kertas 5.000 yen edisi lama, terdapat sosok perempuan yang namanya cukup dikenal namun kisah hidupnya belum banyak dipahami. Ia adalah Ichiyo Higuchi.

Artikel ini akan membahas perjalanan hidup Ichiyo Higuchi yang penuh liku, sekaligus usahanya berkarya di tengah tekanan sosial terhadap perempuan pada masanya.

Jalan Pendidikan yang Terhambat, Namun Melahirkan Karier Sastra Luar Biasa

Ichiyo Higuchi lahir pada tahun 1872. Sejak kecil ia gemar membaca. Namun pada usia 14 tahun, meski lulus dengan nilai baik, ibunya beranggapan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, sehingga ia dilarang melanjutkan sekolah.

Beruntung, ayahnya melalui kenalan berhasil memasukkannya ke sekolah puisi untuk mempelajari sastra klasik Jepang.

Namun kehidupan tidak berjalan mudah. Ayah dan kakaknya kemudian meninggal dunia, membuat keluarga kehilangan sumber penghidupan utama. Ia bersama ibu dan adiknya menjalani hidup sulit dengan pekerjaan menjahit.

Pada usia 17 tahun, ia mengetahui bahwa mengirim tulisan ke majalah sastra dapat menghasilkan honorarium dan sejak saat itu ia mulai menulis secara serius.

Demi memperbaiki kondisi ekonomi, pada usia 21 tahun ia membuka toko kelontong kecil di daerah dekat Ryusenji, Shitaya. Meski akhirnya usaha tersebut gagal, pengalaman itu menjadi inspirasi penting dalam karya Takekurabe.

Baca Juga:

Yasunari Kawabata, Sastrawan Jepang yang Kehilangan Keluarga Sejak Kecil

Takekurabe: Cinta Masa Kecil yang Rapuh

Takekurabe (青梅竹馬) menceritakan kisah adik seorang oiran (pelacur kelas tinggi) bernama Midori dan putra seorang kepala kuil bernama Shinnyo. Keduanya saling menyukai, namun terhalang oleh latar belakang keluarga dan pandangan sosial, hingga akhirnya harus menjalani jalan hidup masing-masing tanpa bisa bersama.

Kisah ini menggambarkan secara detail interaksi remaja dan menghadirkan kesan bahwa takdir secara kejam memisahkan mereka.

Jūsan’ya (Malam ke-13): Ketidakbebasan Perempuan dalam Cinta

Tokoh utama, Oseki, menikah dan masuk ke dalam keluarga pejabat pemerintah. Karena merasa diabaikan dalam pernikahannya, ia meninggalkan anaknya dan kembali ke rumah orang tuanya untuk meminta cerai. Namun ayahnya menolak dengan berbagai alasan.

Dalam keputusasaan, ia naik kereta kuda dan secara kebetulan bertemu dengan kusir yang ternyata adalah teman masa kecilnya, Rokunosuke. Pada akhirnya, keduanya berpisah di bawah cahaya bulan, berjalan ke arah yang berbeda.

Hanya Hidup 24 tahun, Namun Meninggalkan Inspirasi

Dalam karya-karya Ichiyo Higuchi, sering terlihat gambaran perempuan yang tertekan oleh masyarakat dan cinta yang tidak dapat terwujud karena faktor eksternal—kemungkinan besar dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sendiri.

Pada tahun 1896, ia meninggal dunia akibat tuberkulosis di rumahnya pada usia 24 tahun. Namun ia meninggalkan karya yang terkenal di seluruh dunia. Bakatnya bahkan dipuji oleh Mori Ogai dan ia dikenang hingga kini dengan wajahnya yang tercetak di uang yen Jepang.

Di Taito, Tokyo, terdapat Museum Peringatan Ichiyo yang menyimpan manuskrip debutnya Yamizakura, draft Takekurabe, serta buku catatan usaha tokonya. Saat berkunjung ke Jepang, tempat ini menjadi saksi sejarah perjalanan seorang penulis perempuan luar biasa.

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest