Kenapa Tidak Boleh Bertato saat Berendam di Onsen ?

Table of Contents

Kalau kamu menyukai budaya Jepang, kamu pasti pernah mendengar bahwa orang yang memiliki tato tidak boleh berendam di onsen.

Di Jepang ada banyak tempat yang secara jelas memasang pemberitahuan seperti “Tamu dengan tato tidak diperbolehkan masuk untuk berendam.” Kenapa bisa begitu? Untuk memahaminya, kita perlu melihat sejarah tato di Jepang.

Artikel ini akan membantu menjelaskan asal-usul tato di Jepang serta bagaimana stereotip terhadap tato terbentuk di masyarakat.

Tato sebagai Simbol Penjahat

Di Jepang, tato sudah ada sejak zaman Nara. Namun saat itu, tato bukanlah bentuk seni seperti sekarang, melainkan hukuman bagi pelaku kejahatan, yang disebut “bokkei” (hukuman tinta).

Pada zaman Edo, hukuman ini sangat umum. Para pelaku kejahatan akan ditato dengan garis atau simbol tertentu, misalnya di lengan. Jika di lengan masih bisa ditutupi pakaian, tato di wajah justru membuat rasa malu semakin besar dan menjadi tanda aib seumur hidup.

Tujuan utama hukuman ini memang untuk mempermalukan pelaku kejahatan dan membuat mereka membawa stigma tersebut sepanjang hidup. Bentuk dan lokasi tato juga berbeda-beda tergantung daerah dan sistem hukum setempat.

Hukuman ini baru dihapus pada zaman Meiji. Selain menghapus hukuman yang dianggap tidak beradab, pemerintah juga melarang tato untuk tujuan dekoratif. Hal ini menunjukkan bahwa tato pada masa itu masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral oleh masyarakat.

Hubungan dengan Yakuza

Ironisnya, setelah tato dilarang pada zaman Meiji, kelompok kriminal justru mengadopsinya. Anggota organisasi kriminal (yakuza) menggunakan tato sebagai simbol kesetiaan terhadap kelompok.

Akibatnya, tato menjadi identik dengan dunia kriminal dan menimbulkan kesan “anti-sosial” di masyarakat. Hingga sekarang, meskipun masyarakat Jepang sudah lebih terbuka, masih ada stigma negatif terhadap orang bertato.

Banyak yang menganggap orang bertato mungkin berhubungan dengan kelompok kriminal dan bisa berbahaya.

Karena pemandian umum seperti onsen adalah tempat publik, pemilik usaha khawatir kehadiran orang bertato bisa menimbulkan ketidaknyamanan, rasa takut, atau bahkan konflik.

Inilah alasan mengapa banyak tempat melarang orang bertato untuk masuk—sebuah “aturan tak tertulis” dalam budaya berendam di Jepang.

Baca Juga:

Top 10 Oleh-oleh Jepang yang Paling Merepotkan saat Diterima

Di Mana Lagi Tato Tidak Diperbolehkan?

Selain onsen, banyak tempat umum di Jepang yang melarang pengunjung bertato, seperti:

  • Beberapa taman hiburan
  • Gym yang memiliki fasilitas mandi
  • Sauna
  • Kolam renang dan pantai

Tempat-tempat ini berpotensi memperlihatkan tato secara jelas, sehingga sering memberlakukan pembatasan. Namun aturan ini tergantung kebijakan masing-masing tempat. Ada juga beberapa onsen yang memperbolehkan pengunjung bertato.

Baca Juga:

Apakah Legal Menolak Pengunjung Bertato?

Apakah pemilik usaha berhak menolak pelanggan bertato? Secara hukum, ya. Berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak, pemilik usaha berhak menetapkan aturan masuk.

Jika larangan terhadap tato sudah diumumkan (melalui papan atau pemberitahuan lisan), dan pelanggan tetap melanggar, pihak usaha berhak menolak atau mengeluarkan pelanggan tersebut.

Jadi, secara hukum, menolak pengunjung bertato bukanlah tindakan ilegal.

Apakah Tato Legal di Jepang?

Pernah ada kasus di mana seorang seniman tato dituntut karena tidak memiliki lisensi medis. Pengadilan tingkat pertama menyatakan bahwa tindakan menyuntikkan tinta ke kulit bisa dianggap sebagai tindakan medis, sehingga pelaku dikenai denda.

Hal ini memunculkan pertanyaan, “apakah seniman tato harus memiliki lisensi dokter?”.

Namun pada tingkat banding dan Mahkamah Agung, seniman tersebut dinyatakan tidak bersalah. Pengadilan menyatakan bahwa tato adalah bagian dari budaya dan seni, bukan tindakan medis yang bertujuan menyembuhkan atau mencegah penyakit.

Meski demikian, keputusan ini tidak berarti tato sepenuhnya legal secara eksplisit di Jepang. Hingga kini, belum ada regulasi hukum yang secara jelas mengatur legalitas tato.

Ikuti Aturan Setempat agar Perjalanan Lebih Lancar

Secara umum, tato masih memiliki stigma negatif di Jepang dan belum sepenuhnya diterima secara sosial. Namun di sisi lain, ada juga yang menganggap tato sebagai bentuk seni dan banyak seniman tato yang dihormati.

Meski begitu, penerimaan sosial tetap berbeda dengan nilai artistiknya. Saat berkunjung ke Jepang, penting untuk menghormati aturan setempat.

Jika kamu memiliki tato, sebaiknya periksa terlebih dahulu kebijakan tempat yang ingin dikunjungi agar tidak mengalami situasi ditolak masuk.

Dengan memahami budaya lokal, perjalananmu di Jepang akan jauh lebih nyaman dan menyenangkan!

Share Postingan Ini!

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest